03 Oktober 2011

LEMBAGA FATWA
DI INDONESIA
 Oleh : Drs H Muh khalim SH,M.Hum

Dalam kajian ilmu islam ada 3 :
  1. Ilmu aqidah (kalam)
  2. Ilmu fiqh (syariah)
  3. Ilmu tasawuf (ahklak)
                ketiganya tidak dapat di pertentangkan karena ketiganya saling berkaitan
  Menurut Imam Abu Hanifah (80-150) dan Imam syafi’I dalam pemahaman Al Qur’an dan As sunah membedakan menjadi dua :
1.    Al fiqh Al akbar (ketuhanan,kenabian,imamah)
2.    Al fiqh Al asghor (ibadah dan muamalah)
   Menurut imam Ghazali hanya mamilah ilmu syara’ dan selain syara’
   Menurut muhammad syaltuh ilmu agama islam kedalam dua bagian (aqidah dan syari’ah )
   Di indonesia di lakukan pembidangan ilmu agama islam (SK. Menag: 110/1982,14 desember 1982 ) sebagai berikut :
No
                     Bidang ilmu
                   disiplin ilmu
1
Qur’an dan hadis
-       Ulumul quran
-       Ulumul  hadis
2
 pemikiran dalam islam
-       Ilmu kalam             - filsafat
-       Tasawuf                   - Aliran modern
3
Fikih / hukum dan pranata sosial ialam
-       Fiqih islam               - ushul fiqih
-       Pranata sosial         - ilmu falak
4
Sejarah dan peradaban islam
-       Sejarah islam
-       Peradaban islam
5
bahasa
-       Bahasa arab
-       - Bahasa inggris
6
Pendidikan islam
-       Pendidikan dan pengajaran islam
-       Ilmu nafsil islami
7
Dakwah islam
-       Dakwah
-       Perbandingan agama
8
Perkembangan modern di dunia islam
-       hukum                          - politik
-       Sosial                            - ekonomi

Disiplin dan subdisiplin ilmu bidang fikih /hukum dan pranata sosial islam
    Bidang ilmu
                 disiplin ilmu
      Subdisiplin ilmu
Fiqih/hukum dan pranata sosial islam
1. Fikih islam
Ilmu fiqih
Mazhab fiqih
Perbandingan mazhab
Sejarah hukum islam
Peradilan agama
2. Ushul fiqih
Ushul fiqih
Ushul fiqih perbandingan
Filsafat hukum islam
3. Pranata sosial
Fiqih siyasah
Instansi masyarakat islam
4. Ilmu falak
-

Pengertian fatwa
Ø  Menurut bahasa adalah jawaban dalam suatu kejadian (memberi jawaban yang tegas terhadap segala peristiwa yang terjadi dalam masyarakat).
Ø  Imam Zamahsyari : suatu jalan yang lempang/lurus.

Syariat : suatu penjelasan hukum syariah dalam menjawab suatu perkara yang diajukan oleh seseorang atau kelompok masyarakat
Syarat –syarat seorang mufti untuk mengeluarkan fatwa :
  1. Mengetahui secara detail seluruh isi kandungan Al Qur’an dan mampu menganalisis serta menafsirkan secara mantap dan meyakinkan.
  2. Mengetahui betul tentang nasikh dan mansukh.
  3. Mengetahui secara sempurna tentang ayat-ayat yang muhkam dan ayat-ayat yang mutasyabih.
  4. Mengetahui dan memahami tentang ta’wil dan asbabunnuzul.
  5. Mengetahui ayat-ayat makiyah dan madaniyah.
  6. Mengetahui secara mendetail hadits-hadits Rasulullah SAW beserta asbabul wurudnya.
  7. Menguasai ilmu agama secara komprehensif (ilmu fiqh dan usul fiqh), ilmu kalam, bahasa arab dan ilmu-ilmu lain yang sifatnya menunjang aspek-aspek tersebut.

  Isi Pokok Fatwa
Fatwa sebagai bentuk pengambilan keputusan hukum syar’iyah yang sedang diperselisihkan (terjadi perbedaan pendapat);
Fatwa sebagai jalan keluar (follow up) dari kemelut perbedaan pendapat diantara para ulama’/para ahli;
Fatwa harus mempunyai konotasi kuat baik dari segi sosial keagamaan ataupun sosial kemasyarakatan, sebab ada ulama’ yang mengatakan bahwa : berubahnya fatwa sering terjadi karena bertumbuh dan berubahnya situasi, kondisi, tempat dan istiadat;

Fatwa hendaknya mengarahkan pada perdamaian ummat untuk menuju ummat wahidah.
قال : كيف تقضى ٳذاعرض لك قضاء ؟ قال ٲقضى بكتاب الله , قال : فٳن لم تجدفى كتاب الله ؟ قال : فبسنة رسول الله صلى الله عليه وسلم , قال : فٳن لم تجدفي سنة رسول الله صلى الله عليه وسلم ولافي كتاب الله ؟ قال : ٲجتهد رٲيي ولا الوا , فضرب رسول الله صلى الله عليه وسلم صدره وقال : الحمد لله الذي وفق رسول رسول الله لما يرضى رسول الله .


ESSENSI FATWA DAN IJTIHAD PARA ULAMA/AHLI
وتوا صوابا لحق وتوا صوا بالصبر
Menurut Dr. Muhammad Iqbal, Ijtihad/Fatwa “is the prinsiple of movement in the structure of islam”.
Ijtihad/Fatwa harus selalu dihidupkan dan dikembangkan agar umat islam bersungguh-sungguh membangkitkan dan mendorong kemajuan islam.
Pengertian Ijtihad
Menurut Muhammad al-Dawabili, bahwa ijtihad adalah:
البيان والتفسير لنصوص الكتاب والسنة
Menurut Salam Madkur

بذل الجهد للتوصل
ٳلى الحكم المراد من النص ظني الثبوت ٲوالدلالة
Secara umum Ijtihad dibedakan menjadi tiga, yaitu:
1. Ijtihad yang berhubungan dengan cakupan makna 
    lafazh;
2. Ijtihad yang berhubungan dengan penggunaan
    lafazh
3. Ijtihad yang berhubungan dengan cara penunjukkan lafazh terhadap makna (dilalat).

Motivasi Melakukan Ijtihad/Fatwa
    
a.) Agar dalam mengembangkan syariat Islam (dalam                bidang hukum) tidak menggantungkan dengan                 adanya salah satu Sekte saja.
     b.) Agar mampu mengistimbatkan hukum-hukum yang            terkandung di dalam Al-Qur’an dan Sunnah                 Rosulullah Saw.
     c.) Agar hukum-hukum yang dihasilkan dari                    Istimbatulhukmi tidak bersifat statis, namun justru                 dinamis seiring dengan dinamisnya masyarakat.

Lapangan Ijtihad/Fatwa
     
1.      Nash-nash yang Dzanny kedudukannya tetapi   qath’I dalam pengertianya (Dalalahnya).
      2.      Nash-nash yang Dzanny kedudukanya, namun                  qath’I dalam pengertiannya.
      3.      Nash-nash yang Dzanny baik dari segi     kehidupan          ataupun pengertiannya.
      4.      Lapangan hukum yang tidak ada nashnya sama sekali.

Untuk mengetahui hukum Allah
bahwa hukum Allah ada tiga poin indikasi:

1. Hukum Allah dapat ditemukan dalam bentuk ibarat/lafadl.
واحل الله البيع وحرم الربوا (البقرة : ٢٧٥)

2. Hukum Allah ditemukan  dengan isyarat.
 .....فلا تقل لهما اف ولا تنهرهما .....(الاسراء : ۲٣)

3. Hukum Allah tidak ditemukan dalam lafadl maupun isyarat.
.....انما الخمر والميسر والانصاب والازلام رجس ....(الما ئدة : ٩۰)

Peranan Fatwa Keagamaan dalam Merumuskan Hukum Syari’at
1.   Merupakan rumusan ideal karena fatwa merupakan hasil ijtihad oleh               para mujtahidin.
2.   Terdapat nilai tambah karena :
a.  Masyarakat mengetahui secara persis tentang permasalahan.
b. Masyarakat tidak bimbang .
c.  Masyarakat mempunyai tolok ukur.
d. Masyarakat tergugah untuk melakukan pengkajian.
3.   Sasaran Akhir :
a.  Sasaran fatwa keagamaan  mengarahkan agar umat dalam mengambil      keputusan betul-betul mantap dan bertanggung jawab.
b. Fatwa keagamaan memberikan keputusan kongkrit dalam bentuk            fatwa kolektif yang telah disepakati oleh para ahli/pakar.
c.  Fatwa keagamaan mempunyai porsi yang kuat dalam menetapkan            hukum-hukum syari’at, sekalipun secara tersurat belum ada di dalam          Al-Qur’an maupun Hadis.
d. Fatwa keagamaan memberikan warna tersendiri dalam mengambil           keputusan hukum syari’at dan lebih bersifat netral.
e. Fatwa keagamaan memberikan arah yang positif kepada umat      manusia.

METODOLOGI IJTIHAD ORMAS ISLAM DI INDONESIA
1.    MUI
2.    NU
3.    MUHAMMADIYAH
4.    PERSATUAN ISLAM


PEDOMAN PENETAPAN FATWA MUI
DASAR SURAT KEPUTUSAN MUI No.  U-596/MUI/X/1997.
DALAM PENETAPAN FATWA TERDAPAT TIGA BAGIAN.
(PASAL 2 ayat 1 dan 2).
1. Dasar Umum
2. Prosedur Penetapan
3. Teknik danKewenangan
1.       Dasar Umum
Dasar Umum adalah “ adilat al-ahkam dengan dasar Al-Qur’an, Hadits, Ijma’, Qiyas dan dalil lainnya”.
PROSEDUR :
(Langkah-langkah)
1)     Masalah yang diajukan MUI dibahas dalam rapat komisi                untuk mengetahui Substansi dan duduk permasalahan.
2)     Rapat komisi menghadirkan para ahli yang berkaitan dengan       permasalahan.
3)     Pendapat para ahli didengarkan untuk dipertimbangkan, Ulama                melakukan pengkajian terhadap pendapat para Imam Madzhab dan              Fuqoha
4)     Jika Fuqoha memiliki ragam         pendapat, komisi melakukan pemilihan pendapat melalui tarjih dan memilih salah satu       pendapat untuk difatwakan.
5)     Jika tarjih tidak menghasilkan     produk yang diharapkan, komisi dapat melakukan
(
ﺇلحاق المسا ئل بنظائرها) dengan      memperhatikan mulahaq bih,    Mulahaq ilayh, dan wajh al-ilhaq               (pasal 5).
6)     Jika secara ilhaq tidak menghasilkan produk yang memuaskan maka komisi melakukan ijma’ jama’i.

Kewenangan MUI adalah berfatwa tentang :
a)   Masalah-masalah keagamaan yang          bersifat umum dan menyangkut               umat Islam Indonesia secara                 nasional.
b)   Masalah-masalah keagamaan    disuatu                 daerah yang diduga dapat            meluas ke daerah lain (pasal 10).

METODE IJTIHAD MT-PPI MUHAMMADIYAH                         
A. Pengertian ijtihad
     Ijtihad : mencurahkan segenap  kemampuan  berpikir dalam menggali dan merumuskan hukum syar’i yang bersifat dzanny.
      Posisi Ijtihad adalah sebagai metode penetapan hukum yang berfungsi sebagai metode untuk merumuskan ketetapan-ketetapan hukum yang belum terumuskan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.

RUANG LINGKUP IJTIHAD
   1.
Masalah-masalah yang terdapat dalam dalil-dalil dzanni.
   2.
Masalah-masalah yang secara            eksplisit tidak terdapat dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.
METODE
MTPPI MENGGUNAKAN METODE :
    a.
Bayani (Semantik) yaitu metode yang menggunakan pendekatan kebahasaan.
    b.
Ta’lili (Rasionalistik) : penetapan hukum dengan pendekatan penalaran.
    c.
Istislahi (Filosofis) : pendekatan        hukum dengan pendekatan kemaslahatan.

PENDEKATAN
Pendekatan yang Digunakan dalam Ijtihadiyah :
    a.        Al-Tafsir al-Ijtima’I al-Ma’asir
(Hermenetik)
    b.        Al-Tarikhiyah (Historis)
    c.         Al-Susiulujiyah (Sosiologis)
    d.        Al-Antrufulujiyah (Antropologis)

TEKNIK
Teknik yang digunakan :
Ijma’ , Qiyas, Mashalih Murshalah dan Al-Urf.

TA’ARUDH AL-ADILAH
Ta’arudh al-adilah : pertentangan beberapa dalil yang masing-masing menunjukkan ketentuan hukum yang berbeda.
      Jika terjadi Ta’arudh al-adilah maka diselesaikan dengan urutan :
a.    Al-Jam’u wa al-taufiq, yakni sikap menerima semua dalil yang walaupun zhahirnya ta’arudh. Sedangkan pada dataran pelaksanaan diberi kebebasan untuk memilihnya (Takhyir).
b.   Al-Tarjih, yakni memilih dalil yang       lebih kuat untuk diamalkandan meninggalkan dalil yang lebih     lemah.
c.    Al-Naskh, yakni mengamalkan dalil    yang munculnya lebih akhir,
d.   Al-Tawaqquf, yakni menghentikan    penelitian terhadap dalil yang dipakai dengan cara mencari dalil baru.

METODE TARJIH TERHADAP NASKH
Pentarjihan terhadap Naskh dilihat dari beberapa segi :
1. Segi Sanad
    a. Kualitas maupun kuantitas Sanad.
    b. Bentuk dan sifat periwayatan.
    c. Sughot Tahammul wa al-ada’.
2. Segi Matan
    a. Matan yang menggunakan shighot                 nahyu lebih rajin dari sighot Amr.
    b. Matan yang menggunakan sighot Khas         lebih rajin dari matan yang           menggunakan sighot ‘Amm.
3. Segi Materi Hukum
4. Segi Eksternal

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

tolong tinggalkan komentar.. okey!!!