03 Oktober 2011

AHLUSSUNAH WAL JAMA’AH

PENDAHULUAN

Bagaikan gadis cantik yang menawan, ASWAJA sering menjadi rebutan dari berbagai faham yang menganggap dirinya yang paling benar dan sesuai dengan ajaran Al-Qur’an dan Hadis, dan golongan merekalah yang nantinya masuk surga dan yang lainnya masuk neraka. (dari pandangan riwayat Ibnu majah dari sahabat mu’awiyah tentang perbedaan kelompok (firqoh) 73 golongan).
Didalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD&ART) Muktamar NU ke 27 di Situbondo disebutkan bahwa landasan berfikir, bersikap dan bertindak warga NU adalah faham ASWAJA yang diterapkan didalam kondisi kemasyarakatan Indonesia dan landasan tersebut kita sebut dengan Khittoh 1926.
Oleh karena itu Khittoh tersebut  adalah Islam Ala Ahlussunah Wal Jama’ah (ASWAJA) maka segenap keluarga NU harus tahu dan faham tentang apa Aswaja itu … ? agar supaya jangan sampai warga kita itu dikacaukan pengertiannya dalam faham yang lain yang jumlahnya sangat banyak, dan sebagai generasi termuda NU maka IPNU-IPPNU pun harus tahu dan faham tentang Aswaja.

PENGERTIAN DAN DASAR HUKUM ASWAJA

A.       Pengertian Aswaja
Menurut K.H. Syaifuddin Zuhri pengertian Aswaja adalah segolongan pengikut sunah Nabi Muhammad SAW yang didalam melaksanakan ajaran-ajaran beliau berjalan diatas garis yang dipraktekkan oleh Nabi dan para  Sahabat.

Adapun penggunaan istilah Aswaja didalam riwayat Ibnu Majah dari Mu’awiyyah R.A. dari Rasulullah SAW bersabda :
افترقت اليهودعلى احدى وسبعين فرقة وافترقت النصا رى على اثنتين وسبعين فرقة وان هذه الأمة سـتفـترق على ثلا ث وسبعـين فرقة اثنان وسبعون في النار وواحدة  في الجنة  قا لوا  يا رسول الله ما هذه الواحدة  قال ما انا  عـليه  ا ليوم وا صحا بي    
Artinya :  Telah pecah ummat Yahudi menjadi 71 golongan, dan telah pecah ummat Nasroni 72 golongan, dan ummatku akan pecah menjadi 73 golongan yang 72 golongan masuk neraka dan hanya 1 (satu) yang masuk surga (yang selamat hanya satu) lalu para sahabat bertanya : siapakah yang selamat itu … ? Nabi menjawab  : apa yang hari ini aku kerjakan dan para sahabatku.”
Didalam hadis lain dalam kitab Al-Milal wan Nihal karangan Syaikh Ahmad Abdul Karim juz 1 hal 13 Nabi Bersabda :
سـتفترق امتي على ثلاث وسـبعين فرقة النا جية منها واحدة والباقون هـلكى قيل ومن النا جية؟ قال اهل السنة والجماعة قيل ومن اهل السنة والجماعة؟ قال ما انا عـليه ا ليوم  وا صحا بي (رواه ابن ما جه)
Artinya : Umatku akan pecah menjadi   73 golongan yang selamat hanya satu firqoh sedang yang lainnya binasa. Nabi ditanya : Siapakah yang selamat itu … ? Nabi menjawab : Ahlussunah Wal Jama’ah, Nabi ditanya lagi : Siapakah Ahlussunah Wal Jama’ah itu … ? Nabi menjawab : Apa yang aku dan sahabatku pegang “. (HR. Ibnu Majah)


B.        Dasar Hukum Aswaja

Ahlussunah Wal Jama’ah (ASWAJA) didalam mengambil hukum menggunakan dasar Al-qur’an dan AL-Hadis disamping itu juga menggunakan Ijma’Qiyas.
1.         Al-qur’an adalah merupakan dasar hukum yang paling kuat didalam  Islam sebelum tiga dasar yang lain (Surat An-Nisa’:105)

انا انزلنا اليك الكتاب بالحق لتحكم بين الناس بما ارئك الله ولاتكن للخائنين خصيما

Artinya : “Sesungguhnya kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepada. (Q.S. S.An – Nisa : 105)
2.         Al-Hadis adalah dasar hukum kedua setelah Al-Qur’an, bila didalam AL-qur’an tidak secara tegas disebutkan maka hadis yang menjelaskan. Contoh: dalam AL-Qur’an disebutkan kewajiban sholat dan mengeluarkan zakat, namun jumlah rekaat dan kewajiban pengeluaran zakat berapa nishobnya tidak dijelaskan secara detail maka hadist Nabi yang menjelaskan tentang penjabaran tesebut.
3.         Ijma’ (kesepakatan para ulama) ketika dicari dari AL-qur’an dan Al-Hadis tentang hukum ternyata tidak ada, maka kita dapat menggunakan dasar hukum yang ketiga yaitu Ijma’. Contoh : pada zaman Khalifah Utsman tentang penambahan Adzan Tsani (adzan kedua) yang dikumandangkan sebelum melakukan sholat Jum’at Qobliyatul Jum’ah, oleh karena kesepakatan para sehabat pada waktu itu dan kebijakan Khalifah Utsman serta diikuti oleh sahabat lain dan tidak ada yang menentangnya maka dilaksanakanlah Ijma tersebut (Ijma’ Shohabi).
4.         Qiyas (menyamakan hukum sesuatu masalah yang belum diketahui hukumnya dan masalah lain yang sudah diketahui, karena ada kesamaan illat yang mendasar penentuan hukum) contoh : menqiyaskan tuak dengan khomer karena tuak itu haram seperti hukumnya khomer, penentuan hukum tersebut didasarkan pada Q.S. An-Nisa’ ayat 59.

ياايهاالذين امنوا اطيعوا الله واطيعوا الرسول والولى الامر منكم    الايه

Artinya : “ Hai orang-orang yang beriman taatlah kamu kepada Allah dan Rasulnya dan Ulil Amri diantara kami, jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-qur’an) dan rasulnya (Assunah) jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Qiyamat….

ASWAJA DILIHAT DARI ASPEK PARA PENGIKUTNYA
Adapun ciri-ciri pengikut Aswaja (“alamat Ahlussunah Wal Jama’ah “) antara lain :
1.         Sholat 5 waktu dengan berjama’ah.
2.         Tidak menilai salah satu sahabat dengan penilaian negatif.
3.         Tidak memberontak pemerintahan yang sah.
4.         Tidak ragu keimanannya (iman yang mantap).
5.         Beriman kepada qodlo’ dan qodar yang baik maupun yang buruk dari Allah SWT.
6.         Tidak menentang ketentuan agama Allah.
7.         Tidak mengkufurkan orang islam.
8.         Tidak meninggalkan sholat atas orang yang mati dalam keadaan Islam.
9.         Membasuh khuffain (semacam sepatu) pada waktu wudlu sebagai pengganti membasuh kaki pada waktu bepergian.
10.     Mau melakukan sholat berjama’ah dibelakang imam yang baik.


GOLONGAN YANG TIDAK TERMASUK ASWAJA

1.         Golongan  Mu’tazilah.
Didirikan oleh Wasil Bin Atto’ mereka berpendapat :
a.         Allah tidak mempunyai sifat.
b.         Manusia itu dapat menciptakan amal perbuatan.
c.         Ukuran baik buruk ditentukan oleh akal.
d.         Allah wajib memberi pahala orang yang taat.
e.         Syafa’at nabi itu tidak ada.
2.         Golongan Syi’ah
Golongan yang mengkultuskan / mendewa-dewakan S. Ali Bin Abi Thalib)

Golongan Syi’ah didirikan oleh Abdulah Bin Saba’

Mereka berpendapat :
a.         S. Ali Bin Abi Thalib adalah Tuhan / rasul.
b.         Kawin kontrak itu diperbolehkan.
c.         Para nabi & para pemimpin adalah ma”shum.
d.         S. Abu Bakar, Umar Bin Khotob, Utsman Bin Affan telah merebut dan merampas hak kholifah yang semestinya dipegang S. Ali Bin Abi Thalib.
3.         Golongan Khowarij
(golongan yang sangat membenci S. Ali Bin Abi Thalib)
Golongan khowarij didirikan oleh Nafi’ bin Arzaq mereka mengajarkan beberapa faham diantara ajarannya adalah :
a.         Semua dosa adalah besar dan orang yang berdosa  besar adalah kafir.
b.         Semua orang yang tidak mengikuti ajarannya dianggap kafir.
c.         Menghilangkan hukum rajam bagi orang yang berzina.
d.         Mengkufurkan S. Ali Bin Abi Thalib, S. Tholhah, S. Zubair, Siti Aisyah, S. Abdullah  bin Abbas dll.
e.         Mengingkari S. Yusuf dan Al-Qur’an.
4.         Golongan Murji’ah
didirikan oleh : Jahm bin Sofwan.
Mereka mengajarkan dengan ajaran :
a.         Rukun iman itu hanya dua yakni mengenal Allah dan Rasulnya.
b.         Orang yang sudah mengenal Allah dan rasulnya maka berbuat maksiat atau dosa itu tidak dilarang.
5.         Golongan Najjariyah
didirikan oleh Muhammad Bin Husain An – Najjar  diantara ajarannya adalah :
a.         Allah tidak mempunyai sifat.
b.         Orang yang berbuat dosa itu masuk neraka. Karena syafa’at dan ampunan Allah itu tidak ada.
6.         Golongan Jabbariyah
Didirikan oleh Lahalut Al-“Asham dan Jhem bin Sofwan.
Diantara ajarannya adalah :
a.         Tidak ada gunanya ikhtiar bagi mahluq segalanya tergantung kepada Allah  SWT.
b.         Manusia tidak mempunyai daya untuk mencipta baik/buruk.
c.         Iman cukup didalam hati dan tidak usah diikhtiarkan dengan lesan (ucapan)
7.         Golongan Musabbihah / Mujasimah.
Adalah golongan yang menyamakan Allah dengan mahluq, didirikan oleh Ibnu Taimiyyah diantara ajarannya adalah :
a.         Allah mempunyai tangan, kaki, hidung, mata dll seperti halnya mahluq.
b.         Allah itu bertempat dilangit.

Oleh karena itu jika kita uraikan hal diatas apabila kita hubungkan dengan hadis nabi SAW bahwa golonganku akan pecah menjadi 73 golongan (firqoh) dengan perincian sbb :
1. Golongan Mu’tazilah                                        20    Firqoh.
2. Golongan Syi’ah                                              22    Firqoh.
3. Golongan Khowarij                                          20    Firqoh.
4. Golongan Murji’ah                                              5  Firqoh.
5. Golongan Najjariyah                                           3  Firqoh.
6. Golongan Musabbihah / Mujassimah                   1  Firqoh.
7. Golongan Jabbariyah                                         1  Firqoh.
8. Golongan Ahlussunah Wal Jama’ah                      1  Firqoh
 

                                          Jumlah                    73  Firqoh       


ASWAJA PERSPEKTIF HISTORIS

Dilihat dari Prinsip dan Sikap penganut Aswaja
1.              Masa Rasulullah
Pada masa itu umat Islam  adalah  unat yang satu dan tidak ada perselisihan dalam aqidah dan amalan. Hal ini karena masih adanya wahyu (Al-qur’an) dan Nabi masih ada  sebagai sumber hukum langsung dapat ditanyakan kepada Beliau.
2.              Masa Khulafaur Rosyidin
Ketika Rasulullah wafat hari Senin 13 R. Awwal 11 H / 632 M, maka kosonglah kepemimpinan umat Islam. Maka diadakan musyawarah untuk mufakat (sikap tawasut, tawazun dan tasamuh) karena dari masing-masing golongan mengusulkan calon pemimpin  mereka seperti dari golongan Anshor : Sa’ad bin Ubadah dari golongan Muhajirin : Abu Bakar Ash-Shidiq, dan dari golongan Bani Hasyim : Ali Bin Abi Thalib. Dan setelah terjadi perdebatan yang sangat panjang hingga akhirnya terjadi kesepakatan S. Abu Bakar Ash – Shidiq menjadi Khalifah yang pertama dan dibaiat pada tanggal 13 Ra. Awwal 11 H / 632 M. Inilah awal perselisihan diantara para sahabat, tapi perselisihan zaman kholifah Abu Bakar hanya bersifat untuk membela orang-orang kaya dan kelompok. Seperti para nabi Palsu dan orang –orang yang tidak mau membayar zakat. Orang-orang tersebut adalah :
a.    Musailamah Al – Khadzab         dari bani Hanifah.
b.    Thulaihah bin Khuwalaid            dari bani As’ad.
c.    Aswad Al – Ansi                       dari Yaman.
d.    Saj’ah Tamimiyah                     dari tamim.
Setelah  menjadi khalifah 2 tahun 3 bulan, maka wafatlah S. Abu Bakar dalam usia 63 tahun. Kemudian diangkatlah S. Umar Bin Khottob sebagai kholifah kedua pada tahun 13 H / 634 M, pada masa ini tidak nampak peselisihan dan perpecahan kecuali perselisihan dari orang-orang yang tidak diakui kebenarannya karena tidak berstandart dalil-dalil yang Shohih.
Sehingga pemerintahan S. Umar yang hanya 10 tahun 6 bulan 4 hari mampu memperluas Islam sampai daerah Syiria, Palestina, Irak, Persia & Mesir.
Ketika S. Umar  sakit dan mendekati ajalnya (akibat tusukan Abu Lu’lu’ah 6 kali) beliau menunjuk S. Utsman bin Affan , S. Ali bin  Abi Thollib, S. Zubair bin Awwam , S. Sa’ad bin Abi Waqoa, S. Abdur Rohman bin Auf dan S. Tolhah bin Ubaidillah untuk bermusyawarah memilih kholifah ketiga dan terpilih S. Utsman bin Affan menjadi khalifah pada tahun 23 H / 644 menggantikan S. Umar (meninggal usia 63 tahun).
Pada masa ini mulai  bermunculan perbedaan pendapat karena sistem pemerintahan menggunakan sistem famili, walaupun masih tetap mempertimbangkan kemampuan dan skill serta profesionalisme baik dalam kemampuan bidang agama maupun pemerintahan. Pada tahun 35  H/ 656 M S. Utsman meninggal akibat perpecahan umat Islam dan akibat dari orang-orang yang tidak menyukai sistem yang beliau terapkan.
Setelah  S. Utsman Wafat dalam usia 72 tahun dan menjadi kholifah selama 12 tahun, maka terjadilah kekacauan di Madinah selama 5 hari, kemudian S. Abdullah bin Saba’ (pemimpin Mesir) menunjuk S. Ali bin Ali Thollib sebagai kholifah keempat oleh karena itu pada tanggal 23 juni 656 M / 35 H, S. Ali bin Abi Thallib disumpah menjadi kholifah menggantikan Utsman, pada masa ini umat Islam pecah menjadi 3 golongan :
1.         Golongan yang mendukung dan mengasihi Ali bin abi Thallib : SYI’AH.
2.         Golongan yang merusak dan membantai S. Ali bin abi Thalib  : KHOWARIJ.
3.         Golongan acuh / apriori terhadap Ali bin Abi Thallib.
Dari kelompok yang  mendukung S. Ali pecah menjadi dua golongan.
a.         Golongan yang menuntut agar Ali menindak pembunuh Utsman.
b.         Golongan yang menuntut agar menenangkan keadaan setelah keadaan tenang baru menindak pembunuh Utsman.
Perselisihan yang tidak dapat dicari titik temu akhirnya menjadi peperangan antara pendukung S. Ali dengan pendukung Utsman yang dipimpin S. Mu’awiyyah bin abi Sofyan yang berakhir pengakuan S. Mu’awiyyah  sebagai pengganti S. Ali bin abi thallib.
S. Ali bin Abi Thallib memerintah selama 4  tahun 9 bulan, banyak umat Islam menjadi pecah beberapa golongan, hal ini disebabkan karena faktor semakin banyaknya umat Islam yang sampai kepenjuru dunia dan semakin banyaknya pemahaman didalam mengartikan / mentafsir kan Al-qur’an dan Hadist Nabi.


3.              Masa Tabi’in
Setelah terjadi perpecahan yang banyak dianara beberapa golongan yang dinilai oleh sekelomok orang banyak menyimpang maka timbul golongan yang mengaku ada beberapa kebenaran. 1. Golongan Mu’tazilah dan 2. Golongan Jabbariyah.
Pada masa itu muncul reaksi terhadap ajaran Mu’tazilah dan Jabbariyah yaitu semenjak Imam Al Asy’ari memisahkan diri dari ajaran Al-Juba’i (guru sekaligus ayah tiri) seorang guru besar Mu’tazilah yang mengajarkan bahwa manusia itu mempunyai kekuatan dari dalam dirinya, Allah hanya berbuat baik dan bagus dll.
Pemikiran baru yang dikemukakan oleh Imam Al-Asy’ari yang kemudian disempurnakan Imam Al – Maturidi dan inilah yang kemudian menjadi pijakan para pengikutnya hingga kini yang disebut dengan ASWAJA.
Pendapat – pendapat imam Mujtahid inilah yang menjadi rumusan kalau dalam  bidang  :
a.         Fiqih  mengikuti salah satu madzab 4 (empat)
b.         Tauhid mengikuti salah satu Imam AL- Asy’ari dan AL Maturidi.
c.         Tasawwuf mengikuti rumusan imam Al – Junaidi.

4.              Akhir Abad ke 7 H
Pada tahun 671 lahir seorang tokoh bernama Ibnu Taimiyyah yang mengajarkan pendapat – pendapat yang menyimpang diantaranya :
a.         Ziarah ke Makam Nabi adalah Ma’siyat.
b.         Menyatakan talak / cerai sekaligus tiga  kali  tidak jadi talak tiga.
Ibnu Taimiyyah akhirnya dipenjara dan meninggal dipenjara tahun 728 M, namun ajarannya secara diam-diam diajarkan oleh para pengikutnya.


5.              Pertengahan Abad 12 H
Pada tahun 111 M lahir seorang tokoh Wahabby yaitu Muhammad bin Abdul Wahab. Dia menganut ajaran Ibnu Taimiyah bahkan ditambah dengan pendapat-pendapatnya sendiri antara lain :
a.         Menetapkan anggota tubuh bagi Allah.
b.         Allah berada pada ruang dan gerak.
c.         Tidak boleh taqid kepada  madzab 4.
d.         Mengharamkan tawasul dan mengharamkan ziarah kubur.

6.              Masa Wali Songo (Abad 14 – 16)
Pada Tahun 1404 M datang seorang Ulama bernama Syekh Maulana Malik Ibrohim / Syekh Maghribi yang berasal dari Turki (riwayat lain dari Gujarat) menyebarkan Islam ditanah Jawa tepatnya di Gresik. Setelah mempunyai pengikut cukup banyak beliau mendirikan pondok pesantren dan masjid.
Konon kabarnya beliau mendapat bantuan dari raja cermain dalam membangun dan mendirikan Pon.Pes di Gresik. S. Maulana Malik Ibrohim (S. Gresik) itu tidak hanya ahli dalam bidang agama saja, beliau juga ahli dalam bidang perekonomian. Ini terbukti peningkatan ekonomi pertanian sangat maju di Gresik.
Pada tahun 1401 M lahir seorang  putra bernama R. Rahmatullah (Sunan Ampel) dinegeri Cempa.

Salah satu ajarannya yang terkenal adalah Falsafah “ MOLIMO “ yaitu :
1.         emoh main (tidak mau judi)
2.         emoh ngumbe (tidak mau minum yang memabukkan)
3.         emoh madat (tidak mau minum/menghisap candu/ narkoba) (S.Q. Al – Maidah  90)
ياايها الذين امنوا انماالخمر والميسر والانصاب والازلام رجس من عمل الشيطان فاجتنبوه لعلكم تفلحون

Artinya : “ Hai orang-orang yang beriman sesungguhnya minuman keras, judi berhala, dan undian – undian itu semua keji dan perbuatan syaitan, maka jauhilah olehmu, supaya kamu beruntung. (S.Q. Al – Maidah  90)
4.         emoh maling


Artinya : “ Jika  umatku tidak berbuat korupsi, maka tidak ada musuh yang dapat mengalahkan untuk selamanya. (H.R. Ath. Thabrani)
5.         emoh madon


Artinya : “ Dan janganlah kamu mendekati Zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk “.

Dari sejarah walisongo tiga yang terkenal dengan sebutan orang yang keras didalam mengambil hukum dan tidak mau kompromi dengan adat istiadat, animisme dan dinamisme beliau   adalah : S. Ampel, Derajat dan Giri.
Sedangkan sunan Bonang, Kalijaga, Gunung Jati, Kudus, dan Muria didalam menyiarkan agama Islam masih menerima adat setempat, tapi berusaha mengikis adat istiadat yang bertentangan dengan agama Islam sementara adat yang sulit dihilangkan sementara dibiarkan agar tidak terjadi usaha kekerasan didalam penyebaran Islam.
Secara singkat peranan Wali Songo didalam menyebarkan agama Islam di Indonesia itu sangat toleran terhadap perbedaan pandang (tasamuh) asal tidak menyimpang dari koridor islam itu sendiri.
Adapun ajaran walisongo yang sampai sekarang diantaranya adalah :
1.         Tahlil mulai 3 hari, 7, 40, 100, mendak I, II, III dan 1000 hari.
2.         Ziarah kubur (S. Giri ziarah pada makam ibunya Puri Sekar dadu di Blabangan)
3.         Mengadakan Peringatan Hari Besar Islam  dengan berbagai acara (S.Kalijogo mengadakan Gong Sekaten dan Grebeg maulud pada  malam 12 R. Awwal)
4.         Tarawih 20 rekaat.
5.         Adzan jum’ah 2 kali.
6.         Sholat shubuh memakai qunut.
7.         Tawassul dan tabarruk dengan berbagai cara.
8.         Sedekah sebelum hajatan.
9.         Membaca kitab al – barjanji, manaqib dan lain-lain.


BEBERAPA AJARAN KEIMANAN ASWAJA

1.         Orang  yang meyakini dengan hatinya dan menyatakan dengan lesannya (membaca Syahadatain) dan konsekwen menjalankan ajaran agama, keimanan yang seperti itu adalah keimanan yang sempurna dan langsung masuk surga.
2.         Orang yang meyakini dengan hatinya dan menyatakan dengan lesannya (membaca syahadatain) belum melaksanakan seluruh ajaran agama dan sering melakukan dosa besar. Orang seperti ini bisa masuk surga setelah dimasukkan neraka dan keimanan seperti ini belum  sempurna.
3.         Orang yang meyakini dengan hatinya, lesannya membaca syahadat, tapi sama sekali tidak mengamalkan ajaran agama imannya termasuk iman yang ringan.
4.         Orang yang meyakini dengan hatinya, tapi belum pernah membaca syahadatain juga tidak mengamalkan ajaran agama. Iman seperti ini adalah keimanan yang paling rendah derajatnya.
5.         Sifat Allah maha Esa menurut ASWAJA. Allah itu Esa (tunggal) Dzat – Nya, sifat-sifat-Nya dan Esa dalam perbuatannya.
لم يلد ولم يو لد
Allah itu Esa tidak  beranak dan diperanakkan.
6.         Orang  yang hatinya tidak meyakini, tapi membaca syahadatain dan tidak melaksanakan ajaran agama ia disebut munafiq.
-             Didunia kita perlakukan sebagai adanya (menurut pengakuannya)
-             Tetapi diakherat orang munafiq termasuk ahli neraka.
ان المنا فقين في الدرك الأ سفل من النا ر

Artinya :    Sesungguhnya orang-orang munafiq itu ditempatkan yang paling rendah dari neraka“.


P E N U T U P

Karena zaman semakin akhir, maka gejala-gejala pendangkalan nilai dan norma agama terutama dalam aspek Aqidah makin tampak, ditambah lagi kecanggihan media baik elektronik maupun mess media. Oleh karena itu tiada alternatif lain bagi kita (generasi Muda NU) untuk memperdalam ilmu dibidang Aqidah tersebut agar kita tidak terbawa kedalam ajaran yang sesat.
Semoga Allah SWT senantiasa memberikan pertolongan kepada kita bersama didalam langkah dan perjuangan menegakkan agama Islam Ala Ahlussunah Wal jama’ah. Amin.













DAFTAR PUSTAKA



1.      DEPAG RI. Al-Qur’an dalam terjemahannya, Yayasan Penyelenggara Penterjemah / pentafsir Al-qur’an 1971 M
2.      A. Zainuddin S.Ag dan M Jamhari S.Ag, Al-Islam Aqidah  & Ibadah CV. Pustaka Setia 1999 M.
3.      Baedlowi Syamsuri, Kisah Walisonggo Apollo Surabaya 1995 M
4.      Syekh Umar Abdul Jabbar Khulashoh Nurul yaqin Juz 2 & 3.
5.      K.H. M. Sya’roni Ahmadi Al – faroidus Saniyah 1922 M
6.      Syekh Al – Alamah K.H. Ali Ma’shum Yogyakarta Hujjah Ahlussunah Wal jama’ah.
                        

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

tolong tinggalkan komentar.. okey!!!