18 November 2016

Karomah Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani R.A.

Karamah menurut bahasa/lughoh memiliki arti kemuliaan. Pengertian karamah menurut Syaikh Ibrahim al-Bajuri dalam kitabnya Tuhfatul Murid, bahwa karamah adalah sesuatu luar biasa yang tampak dari kekuasaan seorang hamba yang telah jelas kebaikannya yang ditetapkan karena adanya ketekunan di dalam mengikuti syariat nabi dan mempunyai i’tiqad yang benar. Menurut Hakim at-Tirmidzi, adapun yang dimaksud karamah auliya tiada lain adalah kemuliaan, kehormatan, penghargaan, dan persahabatan yang dimiliki para wali Allah berkat penghargaan, kecintaan dan pertolongan Allah kepada mereka. Dengan demikian, karamah auliya itu dalam pandangan Hakim at-Tirmidzi, merupakan salah satu ciri para wali secara lahiriah yang juga dinamakannya “tanda-tanda”.


Hakim at-Tirmidzi lebih lanjut membagi karamat al-awliya ke dalam dua bagian. Pertama, karamah yang bersifat ma‘nawi atau al-karamat al-ma‘nawiyyah. Karamah yang pertama merupakan sesuatu yang bertentangan dengan adat kebiasaan secara fisik-inderawi, seperti kemampuan seseorang unrtuk berjalan di atas air atau berjalan di udara. Sedangkan karamah yang kedua merupakan ke-istiqamah-an seorang hamba di dalam menjalin hubungan dengan Allah, baik secara lahiriah maupun secara batiniah yang menyebabkan hijab tersingkap dari kalbunya hingga ia mengenal kekasihnya, serta merasa ketentraman dengan Allah.

At-Tirmidzi memaparkan karamah yang kedua sebagai yang berikut:

“Kemudian Tuhan memandang wali Allah dengan pandangan rahmat. Maka Tuhan pun dari perbendaharaan rububiyyah menaburkan karamah yang bersifat khusus kepadanya sehingga ia (wali Allah) itu berada pada maqam hakikat kehambaan (al-haqiqah al-ubudiyyah). Kemudian Tuhan pun mendekatkan kepada-Nya, memanggilnya, menghormati dan meninggikannya. Menyayanginya dan menyerunya. Maka wali pun menghampiri Tuhan ketika ia mendengar seru-Nya. Mengokohkan (posisi)-nya dan menguatkannya; memelihara dan menolongnya; sehingga ia meresponi dan menyambut seruan-Nya. Dalam kesunyian ia memanggil-Nya. Setiap saat ia munajat kepada-Nya. Ia pun memanggil kekasihnya. Ia tidak mengenal Tuhan selain Allah.”

Demikianlah sekilas mengenai perilah karamah. Dari penjelasan di atas kiranya dapat kita tarik kesimpulan bahwa karamah merupakan sesuatu perkara yang terjadi di luar kemampuan akal manusia biasa untuk memikirkan atau menciptakan perkara itu (karamah) diberikan Allah kepada hambanya yang sudah terang kebaikannya, setiap sikap perbuatan dan ucapannya serta keadaan hatinya selalu bergerak sesuai dengan tuntunan ajaran Islam yang dibawa oleh Rasulullah baik dalam segi syariat atau aqidah serta akhlaknya.

Adapun karamah yang dimiliki oleh Syaikh Abdul Qadir al-Jailani merupakan tanda-tanda kewalian beliau, sehingga para ulama dan syaikh yang agung dan mengetahui dengan pasti derajat kewalian beliau tersebut senantiasa memuji dan mengagungkan sosok Syaikh Abdul Qadir al-Jailani serta sangat menjaga sopan santun ketika berada di majelisnya. Sikap mereka yang demikian itu karena mengingat bahwa beliau merupakan waliyullah yang memiliki derajat yang sangat tinggi di sisi-Nya. Dalam ketinggian derajatnya tersebut, selain sebagai panutan, sosok Syaikh Abdul Qadir juga berperan penting dalam membantu membangun keimanan dan ketakwaan para hamba Allah. Beliau tidak sedikitpun membiarkan murid-murid beliau “terlantar” dalam kehidupannya di dunia terlebih di akherat. 

Dalam penjelasannya mengenai keajaiban dan keramat, Syaikh Abdul Qadir al-Jailani dalam Sirrul Asrar juga telah menjelaskan, bahwa karamah merupakan perkara luar biasa yang berada di luar adat kebiasaan. Namun demikian, seorang sufi yang memiliki karamah bukan berarti ia telah lepas dari ujian yang diberikan oleh Allah. ia masih mendapatkan berbagai ujian dan tidak menutup kemungkinan ia bisa terjerumus ke dalam lembah syirik, dan dosa besar, apabila ia tidak segera mengembalikan kejadian keramat itu kepada Allah. syaikh Abdul Qadir juga menjelaskan, bahwa kebanyakan para sufi yang diuji dengan ujian karamah ini, akan banyak bersikap tidak sabar, sombong, dan pada akhirnya menjadi lupa bahwa dirinya telah berada di dalam jerat setan yang terkutuk. Demikianlah, pada akhirnya Syaih Abdul Qadir tetap menasehati kepada para ahli karamah agar senantiasa berhati-hati terhadap kelebihan dan nikmat besar yang telah diberikan oleh Allah kepada dirinya tersebut.

Di antara kisah-kisah karamah Syaikh Abdul Qadir al-Jailani adalah sebagai berikut: 

Diriwayatkan oleh Syaikh Ali Ghartsani yang mengatakan, bahwa Syaikh Abdul Qadir berkata, “Aku bertanya kepada malaikat penjaga neraka, Apakah ada sahabatku (murid) di dalam neraka ?”

“Tidak seorang pun,” Jawab sang malaikat. 

“Demi keagungan Allah, hubunganku dengan para muridku bagaikan langit dan bumi. Jika para muridku tidak bagus, maka aku bagus. Demi keagungan Allah, aku tidak akan mengangkat kakiku dari hadapan Allah di hari kiamat, hingga dia memasukkan aku dan para muridku ke surga.” 

Bagaimana pendapatmu tentang orang yang menyebut namamu namun tidak mengambil bai’at darimu. Apakah dia termasuk muridmu ?” Tanya seseorang kepada beliau. Beliau ,menjawab, “Siapapun yang menyebut namaku atau menisbatkan sesuatu kepadaku maka Allah akan mengkatagorikannya sebagai muridku, walaupun penyebutan dan penisbatan tersebut dilakukan dengan kebencian”.

“Orang Muslim yang lewat di depan pintu madrasahku akan diringankan Allah Azab hari akhir”, demikian yang dikatakan Syaikh Abdul Qadir. Kemudian datanglah seorang pria menghadap beliau dan berkata, “Tuanku, tadi malam aku bertemu dengan ayahku yang sudah meninggal dalam mimpi dan ia berkata kepadaku bahwa dia di azab di dalam kuburnya. Dia memintaku untuk menemui anda dan memintakan do’a untuknya”.

“Pernahkah ayahmu lewat di depan pintu madrasahku ?” Tanya sang Syaikh

“pernah,” Jawabnya.

Beberapa hari kemudian pria tersebut kembali menghadap sang Syaikh dan berkata,”Tuanku, tadi malam aku bermimpi bertemu dengan ayahku. Kali ini ia tertawa, memakai pakaian berwarna hijau dan berkata kepadaku, “Azab kuburku telah diangkat berkat berkah Syaikh Abdul Qadir. Karena itu hendaknya engkau selalu mengikutinya.”

Mendengar penuturan tersebut Syaikh Abdul Qadir berkata, “Allah telah memberikan janjinya kepadaku untuk meringankan azab setiap muuslim yang lewat di depan pintu madrasahku.”

Demikianlah, para sejarawan bersepakat tentang sosok Syaikh Abdul Qadir al-Jailani sebagai seorang waliyullah yang memiliki banyak karamah. Mengenai hal ini pula, Syaikh Muwafiquddin, penulis kitab al-Mughni berkata, “Tidak kudengar dari siapa pun yang bercerita tentang kekeramatan yang begitu banyak, sebagaimana cerita tentang kekeramatan Syaikh Abdul Qadir al-Jailani.”

Syaikh Izzuddin bin Abdis Salam juga berkata, “Sesungguhnya tiada kekeramatan dari beberapa masyayikh (guru), kecuali kekeramatan yang dimiliki Syaikh Abdul Qadir al-Jailani, karena karamah beliau itu mengalir secara estafet.” 

Dalam suatu riwayat, Syaikh Abdul Qadir al-Jailani mendengar suara teriakan dari dalam sebuah kubur di pekuburan Bab Al-Azaj. 

Beliau berkata kepada si mayit, “Apakah engkau pernah ber-bai’at kepadaku?”

“Tidak” jawabnya.

“Apakah engkau pernah menjadi makmumku ?” Tanya beliau.

“Tidak” jawabnya. 

Beliau berkata, “Orang-orang yang berlebih-lebihan memang pantas mendapatkan kerugian.”

Setelah itu beliau menundukkan kepalanya sejanak lalu dengan pancaran karisma yang luar biasa beliau mengangkat kepala seraya berkata, “Malaikat berkata kepadaku bahawa dia melihat wajahmu dan berbaik sangka kepadamu dan dengan berkahmu, Allah merahmatinya.” Setelah itu beliau tidak lagi mendengar pekikan dari kubur tersebut.

Diriwayatkan, bahwa suatu hari ada tiga orang guru dari negeri Jilan yang datang kepada Syaikh Abdul Qadir al-Jailani. Sewaktu masuk ke rumah beliau, mereka melihat kendi yang tidak menghadap ke kiblat dan seorang pelayan berada di sisi beliau. Kemudian mereka saling berpandangan seperti menunjukkan sikap tidak senang kepada beliau sebab kendi tersebut tidak menghadap ke kiblat dan seorang pelayan tadi masih tetap di sisi beliau. Maka Syaikh Abdul Qadir al-Jailani meletakkan kitab yang ada di tangannya, sekali waktu beliau memandang mereka dan sekali waktu beliau memandang ke pelayan, seketika itu juga pelayan tadi mati, kemudian beliau memandang ke arah kendi dan kendi itu pun berputar sendiri menghadap ke kiblat.”

Dikisahkan pula, bahwa pada suatu saat pernah terjadi Syekh Abdul Qadir al-Jailani berjalan-jalan, lalu menjumpai dua orang yang sedang berdebat keras. Yang satu orang Islam, yang satunya orang Kristen. Syaikh Abdul Qadir ingin mengetahui masalahnya. Kemudian orang Islam itu menjelaskan, orang Nasrani yang berdebat dengannya itu namanya adalah Al-Isuwi, dia mengatakan bahwa nabinya lebih utama dari nabi kita Muhammad. Lalu Syaikh Abdul Qadir al-Jailani ingin mengetahui buktinya dari orang Nasrani tadi. Orang Nasrani menerangkan bahwa nabinya, yaitu nabi Isa, bisa menghidupkan orang yang telah mati. Kemudian Syekh Abdul Qadir al-Jailani menjawab, “Saya ini bukannya nabi, tapi saya adalah umatnya yang setia mengikuti ajarannya. Bagaimanakah nanti kalau saya bisa menghidupkan orang mati dengan seizin Allah sebagaimana nabi Isa, apakah kamu beriman kepada nabi Muhammad?” 

Orang Nasrani dengan tegas menjawab, “Ya, Saya akan beriman kepada nabi Muhammad.”

Kemudian Syaikh Abdul Qadir al-Jailani berkata kepada orang Nasrani itu. “Sekarang mari tunjukkan kepada saya makam yang sudah lama.”    

Lalu orang Nasrani itu menunjukkannya.    

Setelah sampai di kuburan yang ditujunya, Syaikh Abdul Qadir al-Jailani bertanya kembali pada orang Nasrani itu, “Dengan kalimat apa nabi Isa menghidupkan orang yang sudah mati?”

Orang Nasrani itu menjawabnya, “Wahai orang yang telah mati, dengan izin Allah hiduplah kamu sekarang. Begitulah yang diucapkan oleh nabiku Isa bila menghidupkan orang yang sudah mati.”

Sebelum Syaikh Abdul Qadir al-Jailani memohon kepada Allah agar Allah menghidupkan orang yang sudah mati tersebut, Syaikh Abdul Qadir al-Jailani memberitahukan kepada orang Nasrani itu bahwa kuburan ini adalah kuburannya orang yang ahli menyanyi, maka saksikanlah orang ini nanti keluar dari kuburnya akan menyanyi. Benarlah apa yang dikatakan oleh Syaikh Abdul Qadir al-Jailani. Setelah memohon kepada Allah agar mayit itu dihidupkan kembali dengan menyanyi sesuai dengan apa yang dimintanya. Lalu Syaikh Abdul Qadir al-Jailani menghadap ke kuburan tersebut, tiba-tiba pecahlah kuburan itu dan keluarlah orangnya dengan menyanyi sungguhan. Setelah orang Nasrani itu menyaksikan karamahnya Syekh Abdul Qadir al-Jailani dan keutamaan nabi Muhammad, ia pun menyatakan diri masuk ke dalam agama Islam di hadapan Syaikh Abdul Qadir al-Jailani.

Syaikh Abu Najib Abdul Qahir As-Sahrawardi bercerita bahwa pada setiap malam selalu terdengar suara dengungan seperti dengungan lebah dari Syaikh Hammad Ad-Dabbas. Peristiwa tersebut diadukan oleh salah seorang muridnya kepada Syaikh Abdul Qadir dan meminta beliau untuk menanyakan hal tersebut kepada Syaikh Hammad (saat beliau masih berguru kepada Syaikh Hammad, tahun 508 H). Ketika Syaikh Abdul Qadir menanyakan hal tersebut kepada Syaikh Hammad, beliau menjawab “Aku memiliki 12.000 murid dan setiap malam aku menyebut nama mereka satu persatu. Aku memohonkan kepada Allah hajat mereka dan agar mereka tidak melaksanakan maksiyat yang direncanakannya serta karena takutnya lalu bertaubat kepada Allah”.


Mendengar jawaban itu Syaikh Abdul Qadir berkata, “Andai saja Allah menganugerahkan kepadaku kedudukan di sisi-Nya aku akan meminta Allah bersumpah agar semua muridku hingga hari kiamat meninggal dalam keadaan bertaubat dengan aku sebagai jaminan mereka.” 

Syaikh Hammad berkata, “Aku bersaksi bahwa Allah memberikan apa yang dia minta dan membentangkan bayang ke-Agungan-Nya kepada mereka semua”.

Syaikh Abdullah al-Jaba’i meriwayatkan salah seorang murid Syaikh Abdul Qadir yang bernama Umar al-Halawi pergi selama bertahun-tahun. Ketika pulang beliau menanyakan ke mana kepergiannya selama ini. Umar al-Halawi berkata kepada Syaikh Abdullah ad-Dabbas, Aku mengelilingi Mesir hingga Maghrib dan aku berjumpa dengan 360 Wali Allah, mereka semua berkata “Syaikh Abdul Qadir al-Jailani adalah Syaikh dan pemimpin kami.”

Diriwayatkan, bahwa suatu hari seorang pedagang bernama Abul Mudhoffar Hasan bin Tamimin al-Baghdadi datang kepada Syaikh Hammad bin Muslim bin Darwah ad-Dabbasi pada tahun 521 hijriyah dan berkata kepadanya, “Wahai junjunganku, aku telah mempersiapkan kafilah yang membawa dagangan sebanyak tujuh ratus dinar ke negeri Syam.” 

Syaikh Hammad kemudian berkata, “Jika kamu pergi pada tahun ini, kamu akan terbunuh dan daganganmu akan dirampas.”

Abul Mudhoffar pun meninggalkan Syaikh hammad dengan perasaan sedih. Dalam perjalanannya, ia berjumpa dengan Syaikh Abdul Qadir al-Jailani yang pada waktu itu masih berusia muda. Abul Mudhoffar menceritakan apa yang dikatakan oleh Syaikh Hammad kepadanya. 

Kemudian Syaikh Abdul Qadir al-Jailani berkata kepadanya, “Pergilah, maka kamu akan selamat dan kembali akan membawa keberuntungan, urusan itu akulah yang bertanggung jawab.”

Akhirnya, Abul Mudhoffar pergi ke Syam dan ternyata ia dapat menjual dagangannya dengan harga seribu dinar. Pada suatu hari Abul Mudhoffar peri ke kamar kecil dan ketika keluar ia lupa dengan uangnya. Sesampainya di rumah, ia mengantuk dan tertidur. Dalam tidurnya ia bermimpi berada di dalam satu kafilah yang kemudian didatangi orang Arab Baduwi yang merampas hartanya dan membunuh semua orang yang ada dalam kafilah tersebut. Di antara Arab Baduwi itu ada yang mendatanginya dan memukul dengan pedang serta membunuhnya. Maka ia terbangun dengan gemetar ketakutan dan menemukan bekas darah di lehernya dan ia merasa sakit. Setelah ia ingat, uangany sebanyak seribu dinar tertinggal, maka ia cepat-cepat bangun dan pergi ke kamar mandi. Rupanya uang tersebut masih ada di tempat semula dengan selamat. 

Ia berkata dalam hati, “Kalau aku berkunjung kepada Syaikh hammad lebih dahulu, karena beliau lebih tua dan kalau kepada Syaikh Abdul Qadir al-Jailani karena benar kata-katanya.”

Sewaktu ia sedang berfikir demikian, Syaikh Hammad menemuinya dan berkata kepadanya, “Wahai Abul Mudhoffar, mulailah kamu berkunjung kepada Syaikh Abdul Qadir al-Jailani, karena ia dicintai Allah dan sesungguhnya beliau memohon kepada Allah untukmu sebanyak tujuh belas kali, sehingga kepastian matimu yang sebenarnya berubah hanya kamu rasakan dalam mimpi dan kepastian fakir yang sebenarnya berubah hanya karena lupa saja. Kemudian Abul Mudhoffar berkunjung ke Syaikh Abdul Qadir al-Jailani, maka beliau berkata, “Syaikh Hammad telah mengatakan kepadamu bahwa aku berdoa kepada Allah untukmu tujuh belas kali. Demi kemuliaan yang disembah (Allah), sesungguhnya saya memohon kepada Allah untukmu tujuh belas kali dan tujuh belas kali lagi sampai jumlah seluruhnya tujuh puluh kali, sehingga terjadi seperti apa yang dikatakan Syaikh Hammad.”

Diriwayatkan, bahwa Syaikh Abdul Qadir al-Jailani apabila selesai shalat Isya, beliau masuk ke kamar pribadi. Tidak seorang pun dapat masuk dan membukanya, beliau tidak akan keluar sebelum terbit fajar. Raja baghdad yang sudah berkali-kali datang dengan maksud ingin bertemu dengan beliau pada malam hari, tidak juga dapat bertemu. Syaikh Ibnu Abdul fattah berkata, “Pernah saya bermalam semalam di rumah beliau, maka saya melihat beliau shalat sunnah sebentar pada permulaan malam, kemudian berdzikir kepada Allah sampai melewati sepertiga dari permulaan malam. Kemudian beliau membawa asma’ a’dham yaitu, al-Muhitu, ar-Rabbu, asy-Syahiidu, al-Hasiibu, al-Fa’aalu, al-Khallaaqu, al-Khaaliqu, al-Baariu, al-Mushawwiru. Dan naik ke angkasa sampai hilang dari pandanganku. Setelah kembali ke kamarnya, beliau shalat, berdiri di atas kedua kakinya serta membaca al-Quran sampai habis waktu sepertiga malam yang kedua. Di dalam shalat, beliau sangat memanjangkan sujudnya, kemudian duduk menghadapkan jiwanya ke hadirat Allah, muraqabah kepada-Nya sampai terbit fajar. Kemudian memohon dengan berdoa kepada Allah disertai sifat rendah dan hina hingga beliau tertutup penuh oleh cahaya terang yang menyilaukan pandangan mata, sampai beliau tidak terlihat karena tertutup oleh cahaya tersebut. Kemudian saya mendengar di sampingnya ada yang mengucapkan salam, “Salaamun ‘Alaikum.”. Syaikh Abdul Qadir kemudian menjawab, “Wa’alaikumussalam”, demikian secara bergantian setiap satu ucapan salam selalu beliau jawab. Yang demikian itu terjadi sampai beliau mengerjakan shalat subuh.”

Diriwayatkan, bahwa suatu hari ada seorang perempuan datang kepada Syaikh Abdul Qadir al-Jailani dengan membawa putranya untuk diserahkan kepada beliau agar menjadi santrinya dan belajar ilmu suluk. Kemudian beliau menyuruh sang putra itu untuk memerangi nafsunya serta menjalankan ibadah sebagaimana dilakukan oleh ulama-ulama salaf. Suatu hari, ibunya datang menghadap beliau. Dilihatnya anaknya menjadi kurus dan dilihatnya ia sedang makan roti. Kemudian ibunya tersebut pergi ke kamar Syaikh Abdul Qadir al-Jailani dan ia melihat tulang-tulang ayam dari sisa makanan Syaikh Abdul Qadir al-Jailani. Lalu ibu tadi menanyakan arti semua itu. Syaikh Abdul Qadir al-Jailani kemudian meletakkan tangannya di atas tulang-tulang tadi sambil berkata kepadanya, “Berdirilah dengan izin Allah yang menghidupkan tulang-tulang yang hancur. Maka berdirilah tulang-tulang itu kembali menjadi ayam dan berkokok, “Laa Ilaaha Illallaah Muhammadur Rasuulullaah Syaikh Abdul Qadir Waliyullaah.” Kemudian beliau berkata kepada si ibu, “Kalau anakmu sudah dapat berbuat seperti ini, ia boleh makan sekehendaknya.”

Diriwayatkan, bahwa suatu hari ada seorang laki-laki dari kota Asfihan yang datang kepada Syaikh Abdul Qadir al-Jailani untuk mengobati seorang budak perempuannya yang sudah dimerdekakan, yang sering tidak sadar dan sudah berobat ke mana-mana. Syaikh Abdul Qadir al-Jailani kemudian berkata, “Budakmu ini diganggu jin dari Sorondib, namanya jin Khonis. Apabila ia tidak sadar lagi, bacakan di telinganya, “Hai jin khonis, Syaikh Abdul Qadir al-Jailani yang tinggal di baghdad mengatakan (kepadamu), “Jangan kembali (mengganggu lagi), jika kamu kembali, kamu pasti akan binasa.”

Laki-laki itu pulang dan tidak muncul lagi selama dua puluh tahun lamanya, kemudian ia datang lagi menghadap Syaikh Abdul Qadir al-jailani, dan setelah ditanya ia menjelaskan bahwa apa yang dikatakan Syaikh Abdul Qadir sudah dilaksanakan dan penyakit itu tidak pernah kambuh lagi sampai sekarang. Sebagian tabib ahli jiwa mengatakan, “Selama kami menetap di Baghdad selama empat puluh tahun, ketika Syaikh Abdul Qadir al-Jailani masih hidup, di Baghdad tidak pernah terjadi seorang pun yang menderita sakit jiwa, setelah beliau wafat, berjangkitlah penyakit jiwa itu.”

Diriwayatkan dari Syaikh Abil Abbas Ahmad bin Muhammadd ibn Ahmad al-Urasyi al-Jily yang menuturkan, bahwa pada suatu hari, aku telah menghadiri majelis Syaikh Abdul Qadir al-Jilani berserta murid-muridnya yang lain. Tiba-tiba, muncul seekor ular besar di pangkuan Syaikh. Maka orang ramai yang hadir di majlis itu pun berlari tunggang langgang, ketakutan. Tetapi Syaikh Abdul Qadir al-Jilani hanya duduk dengan tenang saja. Kemudian ular itu pun masuk ke dalam baju Syaikh dan telah merayap-rayap di badannya. Setelah itu, ular itu telah naik pula ke lehernya. Namun, Syaikh masih tetap tenang dan tidak berubah keadaan duduknya. Setelah beberapa waktu berlalu, turunlah ular itu dari badan Syaikh dan ia seperti telah bicara dengan Syaikh Abdul Qadir al-Jilani. Kemudian, ular itu pun pergi dan menghilang entah kemana.

Kami pun bertanya kepada Syaikh Abdul Qadir al-Jilani tentang apa yang telah dikatakan oleh ular itu. Menurut beliau ular itu telah berkata bahwa dia telah menguji wali-wali Allah yang lain, tetapi dia tidak pernah bertemu dengan seorang pun yang setenang dan sehebat Syaikh Abdul Qadir al-Jilani.

Abu Najjar pada Bab pertama kitab Tarikhnya menyatakan bahwa dia pernah membaca dalam tarikh karangan Abi Suja’ adz-Dzahabi. dinyatakan bahwa pada saat itu tembok Baghdad mulai dibangun dan tidak ada seorangpun orang alim yang tidak turut serta dalam pembangunan tersebut beserta jama’ahnya. Suatu waktu adz-Dzahabi melihat seorang wakil Bab Al-Azj, murid Syaikh Abdul Qadir, membawa batu di kepalanya sambil menaiki sapi. 

Suatu ketika Syaikh Abdul Qadir menghadap Syaikh Hammad ad-Dabbas lalu kemudian pergi. Sepeninggalnya, Syaikh Hammad berkata, “Pada waktunya nanti, kaki orang asing ini (Syaikh Abdul Qadir) akan berada di punggung setiap Wali dan dia akan diperintah oleh Allah untuk mengatakan, “Kedua kakiku ini ada di punggung setiap wali.” Dan hal tersebut benar-benar terjadi pada waktunya.
Syaikh Hammad ad-Dabbas bercerita tentang Syaikh Abdul QAdir saat beliau masih menjadi pemuda. Beliau berkata, “Aku melihat ada 2 alam di atas kepalanya, mulai dari alam bawah sampai alam malakut. Aku juga mendengar ada derapan langkah di langit yang mengikutinya”.

Diriwayatkan, bahwa suatu hari ada seseorang yang mengaku bahwa ia pernah melihat Allah dengan kedua matanya. Lalu beliau bertanya, “Benarkah apa yang dikatakan orang-orang bahwa engkau melihat Allah dengan matamu?” orang itu menjawab, “Benar.” Mendengar jawaban itu Syaikh Abdul Qadir melarangnya, seraya membentaknya dan berpesan agar berhati-hati jangan sampai ucapannya itu diulang kembali. Kemudian beliau menoleh kepada orang-orang yang hadir yang bertanya kepada beliau. “Benarkah pengakuan seperti itu wahai syaikh?” Syaikh Abdul Qadir al-Jailani menjawab, “Ia benar, tetapi tetap dalam kebimbangan. Sesungguhnya yang melihat nur keindahan Allah itu adalah mata hatinya, kemudian mata hatinya membius kedua mata kepalanya, mata kepalanya dapat melihat mata hatinya. Cahaya mata hatinya menyatu dengan cahaya keindahan Allah, sehingga orang itu berprasangka bahwa mata kepalanya melihat apa yang sebenarnya dilihat mata hatinya. Sesungguhnya yang dapat melihat cahaya keindahan Allah hanyalah mata hati, tetapi ia belum mengerti.” Mendengar jawaban Syaikh Abdul Qadir al-Jailani tadi, para ulama dan ahli tasawuf gemetar dan kebingungan.”


Dikisahkan, pada suatu hari, ketika Syaikh Abdul Qadir al-Jailani sedang mengajar murid-muridnya di dalam sebuah majelis, seekor burung telah terbang di udara di atas majlis itu sambil mengeluarkan satu bunyi yang telah mengganggu majelis itu. Maka Syaikh Abdul Qadir al-Jilani pun berkata,“Wahai angin, ambil kepala burung itu.” 

Seketika itu juga, burung itu jatuh ke atas majelis itu, dalam keadaan kepalanya telah terputus dari badannya.

Setelah melihat keadaan burung itu, Syaikh Abdul Qadir al-Jilani pun turun dari kursi tingginya dan mengambil badan burung itu, lalu disambungkan kepala burung itu ke badannya sambil mengucapkan, “Bismillaahirrahmaanirrahim.” Dengan serta-merta burung tersebut hidup kembali dan terbang dari tangan Syaikh. Maka takjublah para hadirin di majelis tersebut melihat kebesaran Allah yang telah ditunjukkan-Nya melalui tangan Syaikh.

Syaikh Mahmud meriwayatkan bahwa ayahnya bercerita, “Saat Syaikh Abdul Qadir al-Jailani muda, beliau datang kepada Syaikh Hammad ad-Dabbas, aku sedang berada di sana. Syaikh Hammad bangkit dari duduknya dan berkata, “Selamt datang wahai gunung kokoh dan tinggi.” Lalu Syaikh Hammad mendudukkan Syaikh Abdul Qadir di sisinya. Kemudian beliau bertanya kepada Syaikh Abdul Qadir, “Apa perbedaan antara hadis dan kalam?”

Syaikh Abdul Qadir menjawab, “Hadits keluar sebagi jawaban atas pertanyaan yang dilontarkan kepadamu. Sedangkan kalam bersumber dari keinginan yang kuat dalam hati untuk menyampaikan sesuatu.”

Mendengar jawaban tersebut Syaikh Hammad berkata, “engkaulah Sayyid Al-Arifiin (pemimpin golongan arif) masamu. Panji-panjimu akan berkibar dari timur ke barat, punggung orang-orang masamu akan membungkuk di hadapanmu, derajatmu akan ditinggikan oleh para sahabatmu’.

Dikisahkan dalam sebuah riwayat, bahwa pada suatu hari, seorang lelaki dari kota Baghdad (dikatakan oleh sesetengah perawi bahawa lelaki itu bernama Abu Said Abdullah bin Ahmad bin Ali bin Muhammad al-Baghdadi) telah datang bertemu dengan Syaikh Abdul Qadir al-jailani kemudian mengabarkan, bahwa dia mempunyai seorang perempuan berumur enam belas tahun bernama Fatimah. Anak itu telah diculik oleh seorang jin. Maka Syaikh Abdul Qadir al-Jilani pun menyuruh lelaki itu pergi pada malam hari itu, ke suatu tempat bekas rumah roboh, di satu kawasan lama di kota Baghdad bernama al-Karkh.    

“Carilah salah satu tempat di situ, dan duduklah. Kemudian, gariskan satu bulatan sekelilingmu di atas tanah. Kala engkau membuat garisan, ucapkanlah Bismillah, dan di atas niat Syaikh Abdul Qadir al-Jilani. Apabila malam telah gelap, engkau akan didatangi oleh beberapa kumpulan jin, dengan berbagai rupa dan bentuk, tapi Janganlah takut. Apabila waktu hampir terbit fajar, akan datang pula raja jin dengan segala angkatannya yang besar. Dia akan bertanya hajatmu. Katakan kepadanya bahwa akulah yang telah menyuruhmu datang bertemu dengannya. Kemudian ceritakanlah kepadanya tentang kejadian yang telah menimpa anak perempuanmu itu.

Lelaki itu pun pergi ke tempat yang telah dijelaskan oleh Syaikh Abdul Qadir al-Jailani dan melaksanakan arahan beliau. Selang beberapa waktu kemudian, datanglah jin-jin yang berusaha menakut-nakuti lelaki itu, tetapi jin-jin itu tidak berkuasa untuk melintasi garis bulatan itu. Jin-jin itu datang bergilir-gilir. Dan akhirnya, datanglah raja jin yang sedang menunggang seekor kuda dan disertai oleh satu angkatan pasukan yang besar. Raja jin memberhentikan kudanya di luar garis bulatan itu dan bertanya kepada lelaki itu, “Wahai manusia, apa keperluanmu berada di tempat ini?

Lelaki itu menjawab, “Aku disuruh oleh Syaikh Abdul Qadir al-Jilani agar bertemu denganmu.”

Begitu mendengar nama Syaikh Abdul Qadir al-Jilani, raja jin itu tiba-tiba turun dari kudanya dan mengecup tanah. Kemudian raja jin itu duduk di atas tanah disertai dengan seluruh anggota rombongannya. Sesudah itu, ia menanyakan masalah lelaki itu. Lelaki itu pun menceritakan kisah tentang anak perempuannya yang diculik oleh seorang jin. Setelah mendengar cerita tersebut, raja jin segera memerintahkan kepada pasukannya untuk mencari jin yang telah berbuat salah tersebut. Beberapa waktu kemudian, jin yang membawa anak perempuan laki-laki tadi dibawa ke hadapan raja jin beserta anak perempuan yang dibawanya. Rupanya jin tersebut berasal dari negara Cina 

Raja jin kemudian bertanya, “Kenapa engkau menculik anak perempuan ini? Tidakkah engkau tahu bahwa dia berada di bawah naungan al-Quthb?”

Jin dari negara Cina tersebut menjawab, bahwa dia telah jatuh cinta dengan anak perempuan tersebut. Akhirnya, dengan segala kebijaksanaannya, raja jin itu segera memerintahkan kepada bawahannya gar segera mengembalikan anak perempuan tersebut kepada kedua orang tuanya dan memerintahkan pula agar jin negara Cina itu dikenakan hukuman pancung kepala.

Lelaki itu pun bersyukur kepada Allah karena anak perempuannya telah kembali. Namun ia heran, mengapa raja jin itu begitu menghormati Syaikh Abdul Qadir al-Jailani.

Raja jin itu pun menjelaskan perihal sikapnya tersebut, dengan mengatakan bahwa dengan izin Allah, Syaikh Abdul Qadir al-Jilani dapat melihat semua kelakuan jin-jin yang jahat hanya dari rumahnya. Karena itu, mereka banyak yang menghindar dari beliau, dengan bersembunyi di berbagi tempat yang menurut mereka aman. Allah telah menjadikan Syaikh Abdul Qadir al-Jilani bukan saja al-Qutb bagi umat manusia, bahkan juga ke atas seluruh bangsa jin.”

Abu Najib as-Suhrawardi meriwayatkan bahwa beliau sedang bersama Syaikh Hammad ad-Dabbas ketika Syaikh Abdul Qadir mengatakan perkataan yang luar biasa. Hal ini terjadi pada tahun 523 H. mendengar ucapan tersebut Syaikh Hammad berkata kepada beliau, “Abdul Qadir, engkau telah berbicara, tidakkah engkau takut Allah akan menurunkan makarNya kepadamu.”

Syaikh Abdul Qadir menjawab pertanyaan tersebut dengan meletakkan telapak tangannya ke dada Syaikh Hammad dan berkata, “Lihat apa yang tertulis di telapak tanganku dengan mata hati anda."

Setelah hening sejenak Syaikh Abdul Qadir mengangkat telapak tangannya dan Syaikh Hammad berkata,”Aku baca di telapak tangannya bahwa dia telah mengambil 70 janji Allah dan salah satunya adalah dia (Syaikh Abdul Qadir) tidak (dijaga) dari melakukan makar terhadap Allah. Teruskan, hal tersebut adalah kemurahan Allah yang diberikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Allah maha Pemurah”.

Syaikh Abu Su’ud Abdullah, Muhammad al-Awwani dan Umar aL-Bazzaz bersaksi bahwa dengan menjadikan dirinya sebagai jaminan Syaikh Abdul Qadir menyatakan semua muridnya meninggal dalam keadaan bertobat dan 7 generasi murid beliau dijamin masuk surga. Berkenaan dengan hal ini berliau berkata, “Aku yang menanggung muridku dan muridnya muridku hingga 7 generasi. Jika ada di antara muuridku yang akan dibukakan auratnya dan kami berada di ujung jarak yang terpisah dia yang di timur dan aku yang di barat, maka aku akan menutupi auratnya. Allah telah memerintahkan kepadaku untuk tidak menampakkan kesedihan di depan para sahabat. Aku adalah keberuntungan bagi mereka yang pernah melihatku dan aku juga adalah kerugian bagi mereka yang tidak pernah melihatku “’

Diriwayatkan oleh Syaikh Abi Umar Usman dan Syaikh Abu Muhammad Abdul Haq al-Huraimy, bahwa pada hari ke-tiga bulan Safar, kami berada bersama Syaikh Abdul Qadir al-Jilani yang pada waktu itu kebetulan tengah mengambil wudhu dan hendak memakai sepasang terompah. Setelah selesai menunaikan shalat dua rakaat, beliau tiba-tiba berhenti dan melemparkan salah satu dari terompah beliaudengan sekuat tenaga sampai tak nampak lagi oleh mata. Kemudian beliau melemparkan terompah yang satu lagi. Kami yang berada di situ sangat heran melihat kejadian tersebut, namun tidak ada seorang pun yang berani menanyakan maksud beliau tersebut.

Dua puluh tiga hari kemudian, sebuah kafilah telah datang untuk bersilaturahmi kepada Syaikh Abdul Qadir al-Jailani. Mereka (yakni para anggota kafilah itu) datang denganmembawa berbagai macam hadiah untuk sang Syaikh, termasuk baju, emas dan perak. Dan yang anehnya, termasuk juga sepasang terompah. Kami pun mencoba untuk mengamati sepasang terompah tersebut. Kami dengan penuh keyakinan meyakini bahwa sepasang terompah itu merupakan milik Syaikh Abdul Qadir yang pernah digunakan oleh beliau. Kami kemudian bertanya kepada kafilah tersebut, dari manakah mereka mendapatkan sepasang terompah tersebut. Mereka kemudian bercerita:

“Pada hari ke-tiga di bulan Safar yang lalu, ketika kami sedang di dalam satu perjalanan, kami diserang oleh segerombolan perompak. Mereka merampas semua barang-barang kami dan membawa barang-barang yang mereka rampas itu ke satu lembah untuk dibagi-bagikan di antara mereka. Kami pun segera bermusyawarah, kemudian sepakat untuk menyeru Syaikh Abdul Qadir al-Jilani agar menolong kami. Kami juga telah bernazar apabila kami selamat, kami akan memberinya beberapa hadiah. Tiba-tiba kami mendengar suara jeritan yang amat kuat, sehingga menggegerkan lembah yang berada di dekat kami. Kami kemudian melihat sebuah benda yang melayang dengan sangat cepat dari langit. Beberapa waktu kemudian, terdengar lagi bunyi yang sama dan kami lihat satu lagi benda seperti yang pertama tadi sedang melayang ke arah yang sama.  Setelah itu, kami melihat perompak-perompak itu berlari tunggang-langgang dari tempat mereka sedang membagi-bagi harta rampasan tersebut. Kami yang masih saja keheranan segera menyelamatkan harta benda kami, dan segera pergi dari tempat tersebut. Kami lihat kedua orang pemimpin perampok tadi telah mati. Di sisi mereka ada sepasang terompah. Inilah terompah-terompah itu.”

Diriwayatkan, bahwa Syaikh Abdul Qadir al-Jailani tidak mau mengagungkan orang kaya dan berdiri karena datangnya seorang raja dan juga tidak karena datangnya orang-orang yang memiliki kedudukan. Beliau seringkali melihat seorang raja bermaksud menemuinya, padahal beliau sedang duduk-duduk kemudian beliau tinggalkan, masuk ke kamar pribadinya. Setelah itu beliau keluar lagi untuk menemui khalifah setelah sang khalifah duduk. Hal ini dilakukan karena memuliakan para ahli tasawuf yang tidak tertarik oleh kedudukan dan harta, serta tidak berdiri karena kedatangan raja. Lagipula, beliau tidak mau berdiri di depan pintu-pintu raja atau menteri dan juga tidak mau menerima hadiah dari raja, sehingga raja itu menggerutu atas penolakan beliau.

Kemudian Syaikh Abdul Qadir al-Jailani berkata kepada sang raja, “Kalau begitu bawa sendiri hadiah itu ke sini (raja pun menurutinya).” Kemudian ia membawa sendiri buah apel untuk Syaikh Abdul Qadir al-Jailani. Tiba-tiba apel itu penuh dengan darah dan nanah. Syaikh Abdul Qadir kemudian berkata, “Mengapa raja selalu mencemoohkan dan melecehkan saya? Padahal saya tidak mau memakan buah apel ini karena seluruhnya penuh darah manusia.” 

Akhirnya sang raja meminta maaf dan bertaubat di hadapan Syaikh Abdul Qadir al-jailani. Selanjutnya raja itu sering mengunjungi beliau sebagaimana kebanyakan orang yang menjadi sahabatnya sampai beliau meninggal.

Syaikh Ali al-Qurasyi meriwayatkan bahawa Syaikh Abdul Qadir pernah berkata, “Diberikan kepadaku sebuah catatan berisi nama para sahabat dan nama para muridku hingga hari kiamat kemudian ada suara yang berkata kepadaku, “Aku berikan mereka kepadamu.”

Diriwayatkan, bahwa salah satu kekaramahan Syaikh Abdul Qadir al-Jailani adalah pakaian beliau yang tidak pernah dihinggapi lalat karena mewarisi eyangnya yaitu Nabi Muhammad. Lalu ditanyakan kepada beliau apa sebabnya. Syaikh Abdul Qadir al-Jailani kemudian menjawab, “Untuk apa lalat hinggap pada diriku, yang pada diriku tidak ada tujuan untuk mendapatkan kenikmatan dunia dan madunya akherat (melainkan hanya semata-mata ikhlas karena Allah).”

Diriwayatkan pula, bahwa sebagian karamah Syaikh Abdul Qadir al-Jailani adalah suatu ketika beliau duduk mengambil air wudhu, beliau terkena kotoran burung pipit. Lalu beliau mengangkat kepalanya maka jatuhlah burung itu dan mati. Kemudian beliau melepas pakaiannya untuk dicuci, lalu menyedekahkannya sebagai tebusan atas burung tersebut. Beliau kemudian berkata, “Bila pada saya ada dosa, maka itulah sebagai tebusannya.”

Diriwayatkan oleh Sahal bin Abdullah at-Tastari, pada suatu ketika penduduk Baghdad kehilangan Syaikh Abdul Qadir. Sebuah suara kemudian memerintahkan mereka untuk mencarinya di sungai Dajlah. Sesampainya di sungai tersebut, mereka melihat sang Syaikh sedang berjalan di atas air menuju ke arah mereka dan seluruh makhluk di sungai tersebut maju menciumi tangan beliau. Saat itu waktu salat Dzuhur telah tiba. Sekonyong-konyong munculah sebuah sajadah hijau berhias emas dan perak bertuliskan (pada baris pertama) 

“Ingatlah, Sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (Q.S. Yunus: 62). 

Dan pada baris ke dua “ Salaamun ‘alaikum ahlal baiti innahuu hamiidum majiid” membentang antara alngit dan bumi. Kemudian datanglah serombongan orang hitam yang dipimpin oleh seorang dengan karisma dan kewibawaan luar biasa, mereka menangis namun diam tidak bergerak bak diikat dengan rantai Qudrah. Saat tiba waktunya menunaikan shalat, sang Syaikh menaiki sajadah tersebut dan orang-orang tadi dan penduduk Baghdad shalat di belakang beliau.

Saat beliau bertakbir, para pemikul ‘arsy juga ikut bertakbir. Saat beliau bertasbih, para malaikat di tujuh langit juga ikut bertasbih. Saat beliau mengucapkan hamdalah dari mulutnya keluar sinar hijau yanga memenuhi ufuk. Selesai shalaat beliaua mengangkat ke dua tangannya dan kami mendengar beliau berdo’a:

“Ya Allah demi kakekku Muhammad kekasih dan makhluk pilihanMu serta kedua orang tuaku, aku memohon kepadamu agar semua muridku baik pria maupun wanita meninggal dalam keadaan taubat.”

Saat itu kami mendengar kepakan para malaikat mengamini beliau. Maka kami segera mengamini beliau. Setelah itu, sebuah suara di atas berkata, “Bergembiralah Aku telah kabulkan permintaanmu.”

Para penghulu para Syaikh al-Hafidz Abdul Ghani dan Syaikh Muwafaquddin bin Qudamah serta Syaikh Abdul Muluk bin Diyal meriwayatkan bahwa Syaikh Abdul Qadir menyatakan bahwa orang yang mencintainya akan mendapatkan kebahagiaan yang tidak terukur. Syaikh Abu Hasan al-Jusaqi meriwayatkan pada suatu ketika Syaikh Ali al-Hitti dan Syaikh Baqa bin Bathu sedang berada bersama Syaikh Abdul Qadir, beliau berkata, “Aku memiliki kekuatan yang tidak tertandingi, kuda tercepat di setiap tempat, sultan di setiap tentara yang tidak dapat dibantah, khalifah yang tidak akan turun dari jabatannya.”

Syaikh Ali al-Hitti berkata, “Aku dan para pengikutku adalah pelayanmu.”

Syaikh Daud al-Baghdadi meriwayatkan; pada tahun 458 H beliau bertemu dengan Syaikh Ma’ruf al-Kharqi dalam mimpi dan dia berkata, “Yaa Daud, ceritakan kisahmu yang kemudian akan aku ceritakan di hadapan Allah.” 

Syaikh Daud al-Baghdadi berkata, “Dan aku harus mengesampingkan Syaikh-ku (Syaikh Abdul Qadir)?”

Syaikh Ma’ruf berkata, “Tidak, jangan pernah engkau mengesampingkannya dan kami juga tidak mengesampingkannya.”

Setelah itu aku bangun dan pergi ke madrasahnya Syaikh Abdul Qadir pada waktu sahur untuk mengabarkan hal tersebut. Baru saja aku duduk di madrasah ketika beliau berkata kepadaku dari dalam ruangannya tanpa sempat aku berbicara kepada beliau, “Daud, Syaikhmu tidak dikesampingkan dan mereka juga tidak mengesampingkannya. Sekarang ceritakan kisahmu dan aku akan sampaikan di hadapan Allah.” Akupun meyampaikan masalahku yang kemudian solusinya diberikan oleh beliau.”

Al-Hafidz Muhammad bin Rafi’ dalam kitab Taarikhnya meriwayatkan dari Ibrahim bin Sa’ad bin Muhammad bin Ghanim bin Abdullah bin Tsa’labi aAr-Ruumi menyatakan pada tanggal 10 Dzul Qa’dah 639 H di Dar al-Hadits, K”airo saat ditanya pendapatnya tentang al-Hallaj, Syaikh Abdul Qadir berkata, Kesalahannya terlalu besar sehingga diputuskan dengan syari’at.”

Syaikh Umar al-Bazaar berkata, “Saat Husain al-Hallaj tergelincir, tidak ada seorangpun yang mengulurkan tangan menolongnya pada saat itu. Seandainya aku ada pada saat itu niscaya ia akan aku tolong. Orang-orang yang menolong mereka yang tergelincir seperti dia adalah muridku, yang mencintaiku dan sahabatnya hingga hari kiamat”.

Komentar Syaikh Abdul Qadir tentang al-Hallaj cukup banyak dan terkumpul dalam kitab berjudul Daarul Jawaahir karangan Al-Hafidz Abu Farrj al-Jauzi dan kitab Al-Bahjah fii manakib Syaikh Abdul Qadir Jailani wa hal thabaqatihi minal auliya karya Syaikh Nuruddin Abu Hasan Ali Al-Khammi. 

Syaikh Abu Fath al-Harawi berkata, “Tidak ada seorangpun yang mengulurkan tangannya kepada seorang Syaikh (berbai’at) yang lebih beruntung daripada murid Syaikh Abdul Qadir. Kemudian beliau menyatakan pernah mendengar Syaikh Abu Sa’id al-Qalyawi (dalam riwayat lain Syaikh Abu Sa’ad) berkata, “Syaikh Abdul Qadir tidak akan meninggal dunia kecuali setelah memastikan yang mengikutinya selamat.”

Syaikh Baqa’ bin Bathu berkata, “Aku melihat para pengikut Syaikh Abdul Qadir bersama golongan orang-orang yang berbahagia.”

Diriwayatkan ketika ada orang yang berkata kepada Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani, “Diantara muridnya ada yang berbuat baik dan ada pula yang berbuat keburukan.”Beliau menjawab, “Kebaikan tersebut untukku (pahalanya) sedangkan keburukan tersebut adalah tanggunganku.”

Syaikh Uday bin Abi Barakat Shakhr bin Shakhr bin Musafir menyatakan ayahnya pernah bercerita ketika beliau menemui pamannya Syaikh Uday bin Musafir tahun 454 H. di Zawiyahnya di daerah Jabar, beliau berkata, “Setiap orang yang meminta bai’at dariku pasti aku kabulkan kecuali para pengikut Syaikh Abdul Qadir. Mereka telah tenggelam dalam rahimnya. Bagaimana mungkin ada orang yang mau meninggalkan lautan untuk pindah ke kanal kecil.”

Syaikh Idris al-Ya’qubi berkata, “Pada suatu ketika gurunya Syaikh Ali bin al-Hitti menggandeng tangannya dan menemui Syaikh Abdul Qadir, kejadian tersebut terjadi pada tahun 550 H. sesampainya di hadapan sang Syaikh beliau berkata, “Ini muridku”. Kemudian Syaikh Abdul Qadir membuka baju yang dipakainya ketika itu dan memakaikannya kepadaku seraya berkata, “Ali, sekarang engkau telah memakai pakaian keselamatan”. Sejak saat itu sampai 65 tahun aku memakainya tak pernah sekalipun aku menderita sakit”.

Syaikh Idris berkata kembali, “Aku juga pernah menjumpai beliau tahun 560 H. Saat beliau menundukkan kepalanya, aku melihat cahaya memancar dari beliau dan pada saat itu aku dapat melihat kondisi para penghuni kubur, para Malaikat dan tingkatan-tingkatannya. Aku dapat mendengarkan tasbih yang mereka lantunkan dalam berbagai bahasa dan aku dapat membaca apa yang terlihat di dahi setiap orang. Kemudian tersingkaplah atasku berbagai perkara luar biasa. 

Sang Syaikh berkata kepadaku, “Ambil semua itu jangan takut.”

Aku berkata kepada beliau, “Tuanku, aku takut menjadi gila karenanya.”

Beliau lalu menepuk dadaku, sejak saat itu aku tidak lagi takut apabila melihat pemandangan seperti itu. Sampai saaat ini aku masih melihat dan mendengarkan tasbih mereka”.

Kemudian Syaikh Idris bercerita, “Saat aku pertama tiba di Baghdad, aku tidak memiliki tempat kecuali madrasah beliau (Syaikh Abdul Qadir). Ternyata pada saat itu tidak ada seorangpun yang ada di sana. Sekonyong-konyong aku mendengar suara dari dalam kamarnya, “Yaa Abdurrozaq (muridnya), keluar dan lihatlah siapa yang dating.”

Abdul Razaq keluar melihatku dan masuk kembali seraya berkata, “Hanya seorang berkulit hitam.”

Syaikh Abdul Qadir berkata, “Anak ini memiliki Sesuatu yang luar biasa.”

Kemudian beliau keluar menemuiku dengan membawa roti dan lauk pauk seraya berkata, “Kemarilah.” 

Sebelum ini sekalipun aku tak pernah bertemu dengannya. Aku berdiri dan menghampiri beliau. Sambil meletakkan roti dan lauk pauk tersebut di kakiku, beliau berkata, “Semoga engkau bermanfaat (diucapkan oleh beliau tiga kali) pada suatu saat nanti, orang akan berduyun-duyun mendatangimu dan derajadmu akan menjadi tinggi.” Dan berkat doa beliau hal tersebut menjadi kenyataan.

Syaikh Abdul Wahab berkata, “Ayahku (Syaikh Abdul Qadir) berbicara di majelis pengajiannya 3 kali dalam seminggu. Pada pagi di hari Jum’at, selepas Isya’ hari Selasa, dan di pagi minggu. Majelis tersebut selalu dihadiri para Syaikh, ulama dan para sufi.

Beliau berceramah selama 40 tahun, dimulai pada tahun 521 H. dan berakhir pada tahun 561 H. adapun masa pemberian pengajaran dan fatwanya berlangsung selama 33 tahun. Mulai dari tahun 528 H. dan berakhir pada tahun 561 H. para muridnya selalu membaca kitab dengan benar. Termasuk yang membaca kitab di pengajiannya adalah Mas’ud al-Hasyimi. Selama majelisnya berlangsung tercatat 2 orang pria dan 3 orang wanita meninggal dunia. Ceramah dan pengajaran beliau ditulis 400 orang alim dan awam. Dan dalam majelisnya, beliau sering berjalan di udara kemudian kembali ke kursinya”.

Syaikh Umaar al-Kaimani bercerita :

“Majelis Syaikh Abdul Qadir tidak pernah sepi dari orang-orang nasrani dan yahudi yang masuk Islam, dari taubatnya para perampok, pembunuh, pelaku maksiat, dan yang tersesat. Pada suatu ketika seorang rahib datang menemuinya dan masuk Islam. Kemudian ia bercerita, “Aku adalah penduduk Yaman. Ketika Islam telah merasuki jiwaku, aku bertekad tidak akan masuk Islam kecuali di tangan orang Yaman terbaik. Akupun mulai merenung, siapakah orang itu. Di tengah perenungan tersebut aku tertidur, dan bermimpi bertemu Isa bin Maryam. Beliau berkata kepadaku, “Orang tua, pergilah ke Baghdad dan temui Syaikh Abdul Qadir karena ia adalah orang terbaik di muka bumi saat ini.”

Pada saat yang lain, 13 orang Narani datang ke majelis pengajiannya dan masuk Islam. Kemudian juru bicara mereka berkata, “Kami ini adalah kaum nasrani Arab, ketika kami ingin masuk Islam kami berselisih paham tentang di tangan siapa kami harus masuk Islam. Tiba-tiba datanglah suara tanpa wujud yang berkata kepada kami, “Wahai orang-orang yang beruntung, pergi ke Baghdad dan bersyahadatlah di hadapan Syaikh Abdul Qadir karena beliau akan memasukkan iman yang tak pernah dapat diberikan oleh selainnya saat ini di hati kalian.”

Pada tahun 558 H. di atas kursinya, Syaikh Abdul Qadir berkata, “25 tahun aku hidup mengisolasi diri dan berkelana di padang-padang Iraq. Dan selama 40 tahun aku melaksanakan shalat subuh dengan wudhu Isya’. Selama itu, setelah melaksanakan shalat Isya’ aku berdiri di atas 1 kaki dengan tangan di atas paku karena takut jatuh tertidur. Kemudian aku buka al-Qur’an dan menamatkannya pada waktu sahur. Pernah suatu malam, aku berbaring di kasur lalu nafsuku berkata kepadaku, “Andai engkau tidur satu jam saja.” Seketika aku bangun, berdiri di atas satu kaki dan membuka al-Qur’an kemudian membacanya hingga selesai dalam keadaan seperti itu.”

Syaikh Abdul Qadir berkata, “Aku pernah tinggal di suatu menara yang kini dinamai menara Ajmi selama 11 tahun. Di dalamnya aku pernah bersumpah kepada Allah untuk tidak makan dan minum sampai aku disuapi dan diberi minum. Sejak sumpah tersebut aku berada dalam kondisi tidak makan dan tidak minum selama 40 hari. Pada hari ke 41, seorang pria datang dan meletakkan makanan di hadapanku lalu pergi. Mellihat keinginan tersebut timbul keinginan dalam hatiku untuk memakannya namun aku berkata dalam hati, “Demi Allah aku tidak akan melanggar janjiku kepada Allah.” Lalu aku mendengar teriakan perutku yang kelaparan namun aku tidak mepedulikannya.

Saat itu, Syaikh Abu Sa’id al-Makhzuumi lewat di tempatku dan mendengar gemuruh perutku tersebut. Belliau masuk ke tempatku dan bertanya, “Abdul Qadir Apa ini ?”.

“Ini adalah suara kegelisahan nafsu sedangkan roh dalam kondisi tenang bersama Allah,’ jawabku. 

“Datanglah ke Bab al-Azj,” Kata beliau kepadaku lalu meninggalkanku.

Aku berkata dalam hati, “Aku tidak akan keluar dari tempat ini kecuali dengan Allah.”

Setelah itu Khidir datang menemuiku dan berkata, “Bangkit dan pergilah ke Abu Sa’id.”

Akupun pergi kepadanya dan aku mendapati beliau sedang berdiri di depan pintu rumahnya menungguku. 

Beliau berkata kepadaku, “Belum cukupkah perkataanku tadi ?” Lalu beliau memakaikan jubah kesufian (tanda bai’at) kepadaku. Semenjak saat itu aku mengikuti beliau.”

Dalam sebuah riwayat, Al-Jaba’i meriwayatkan bahwa Syaikh Abdul Qadir al-Jailani berkata kepadanya, “Aku ingin tetap hidup di padang pasir sehingga aku tidak pernah melihat orang atau dilihat orang. Namun Allah menginginkan makhluk mengambil manfaat dariku. Di tanganku, lebih dari 5 ribu orang yahudi dan nasrani telah bertaubat, para perampok dan pendosa lebih dari 100 ribu orang. Ini adalah suatu kebaikan yang besar.”

Syaikh Ibrahim ad-Daari meriwayatkan, “Jika Guru kami Syaikh Abdul Qadir pergi ke masjid pada hari Jum’at, orang-orang berjejer di pasar memintakan beliau mendo’akan hajat mereka baik secara terang-terangan maupun dalam hati.

Pada suatu hari Jum’at beliau bersin dan dan sesaat kemudian bergemuruhlah suara orang orang yang mendo’akan beliau, “Yarhamukallah (Semoga Allah merahmati engkau).” Gemuruh suara tersebut terdengar sampai ke masjid dan saat itu al-Mustanjid Billah, sang khalifah sedang berada di sana.

“Ada apa ini?” tanyanya. 

“Syaikh Abdul Qadir bersin dan oraang-orang mendo’akannya,” jawab seseorang kepada sang Khalifah.”

Ibnu Nuqthah as-Sairafini meriwayatkan :

Pada suatu ketika Syaikh Baqa, Syaikh Ali bin al-Hitti, dan Syaikh al-Failawi berkunjung ke madrasah Syaikh Abdul Qadir. Mereka menggosok-gosok dan membersihkan pintunya tanpa berani masuk ke dalam tanpa ijin dari beliau. Ketika mereka masuk, Syaikh Abdul Qadir mempersilakan mereka duduk. Mereka berkata kepada sang Syaikh, “Dan kami telah mendapatkan keamanan.”

“Ya,” jawab sang Syaikh.

Diriwayatkan salah seorang yang hadir dalam majelisnya selalu membentangkan alas ketika sang Syaikh bangkit dan berjalan. Beliau kemudian melarangnya melakukan hal tersebut namun mereka malah berkata, “Dengan cara inilah kami mendekatkan diri kepada Allah.”

Aku (As-Sairafani) juga sering melihat apabila para syaikh Iraq datang mengunjungi beliau, mereka masuk ke madrasah beliau dan mencium pintu beliau”.

Syaikh Baqiah Salaf Abu Ghanaim al-Bathiahi meriwayatkan :

Seorang murid Syaikh Abdul Qadir datang mengunjungi syaikh Utsman bin Marwazah al-Bathiahi. Sang Syaikh berkata kepadanya, “Anakku, saat ini Syaikh Abdul Qadir adalah sebaik-baik makhluk di muka bumi”.

Dalam riwayat lainnya, Syaikh aL-Mu’ammar al-Jaradah berkata, “Mataku ini tidak pernah melihat makhluk yang ketampan, kelapangan dada kelembutan hati dan keteguhannya dalam memegang janji melebihi Syaikh Abdul Qadir Jailani. Dengan ketinggian derajat dan posisi spiritual serta kedalaman ilmunya beliau selalu berdiri di belakang yang kecil dan menghina yang besar, beliau memulai salam dan bergaul dengan kaum lemah dan bersikap tawadhu kepada golongan sufi fakir. Tidak pernah sekalipun beliau berdiri untuk seorang pembesar, bangsawan dan tidak pernah sekalipun beliau merendahkan diri di pintu para menteri dan sulthan”.

Al-Bathiahi bercerita pada suatu saat ketika aku menghadap Syaikh Abdul Qadir. Aku menjumpai beliau menerima 4 orang yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Akupun diam di tempatku. Kemudian mereka berdiri dan pamit. Sang Syaikh berkata kepadaku, “Kejar mereka dan mohon kepada mereka untuk mendoakanmu.”

Aku susul mereka di halaman madrasah dan memoohon mereka mendoakanku. Salah seorang mereka berkata kepadaku, “Bagimu kabar gembira. Engkau mengabdi kepada seorang pria yang dengan berkahnya Allah jaga bumi, baik dataran maupun pegunungannya. Darat maupun lautannya, dan dengan doanya Allah turunkan rahmatNya kepada semua makhluk, baik yang baik maupun yang buruk. Kami segenap para wali berada di dalam hembusan nafas, di bawah bayangan kaki beliau dan kekuasaan beliau. Setelah itu mereka keluar dan menghilang. Aku kembali kepada Syaikh Abdul Qadir dengan perasaan takjub.

Sebelum aku membuka mulut, beliau berkata kepadaku, “Selama aku masih hidup, jangan engkau ceritakan apa yang mereka katakan kepada orang lain.” 

“Tuanku, siapa mereka?’ tanyaku kemudian. 

Beliau berkata, “Mereka adalah para pemimpin gunung Qaf, sekarang mereka sudah kembali ke tempat masing-masing.”

Muhammad bin Khidr meriwayatkan, ayahnya berkata kepadanya , “Aku berkhidmad kepada Syaikh Abdul Qadir selama 13 tahun. Selama itu tidak pernah sekalipun aku melihat beliau mendengus, meludah dan dihinggapi lalat. Aku juga tidak pernah sekalipun melihat beliau berdiri demi menghormati para pembesar atau merendah di depan pintunya, duduk di karpet dan makan sajiannya kecuali beliau menganggap semua itu adalah hukuman yang didahulukan untuknya.

Suatu saat ketika raja, para menteri dan petinggi Negara mendatanginya beliau segera masuk ke ruangannya. Setelah mereka duduk baru beliau keluar demi menghindari bangkit dari duduknya sebagai tanda penghormatan bagi yang berkunjung. Beliau berbicara kepada mereka dengan keras dan menasehati mereka. Mereka menciumi tangan beliau dan duduk di hadapan beliau dengan penuh kerendahan diri dan khusyu’. Apabila beliau menulis surat kepada khalifah, beliau berkata, “Dia memerintahkanmu untuk melakukan ini atau perintah-Nya atasmu wajib diikuti, menaati –Nya adalah kewajiban bagimu, dan Dia adalah penuntunmu.”

Begitu meneriam surat itu sang khalifah berkata, “Benar apa yang diucapkan sang Syaikh.”

Mufti Iraq Syaikh Muhiyuddin Abdillah Muhammad bin Hamid al-Baghdadi berkata, “Syaikh Abdul Qadir adalah seorang yang mudah menangis, sangat kharismatik dan makbul doanya. Karismanya memancar dari karakternya yang berbudi mulia, keturunannya yang terhormat, (beliau keturunan ke 9 dari Rasulullah, sebagian ada ulama yang mengatakan ke-11). Beliau adalah manusia yang paling jauh dari kejahatan dan paling sekat dengan kebenaran serta sangat takut jika melanggar perintah Allah. Tidak pernah beliau marah karena dirinya, dan tidak pernah beliau meminta pertolongan kecuali kepada Allah. Beliau tidak pernah menolak para pengemis walaupun harus memberikan salah satu dari dua baju yang dipakainya. Taufik adalah penunjuknya, inayah adalah penolongnya, dan ilmu pendisiplinnya dan Al-Qarb (kedekatan) adalah gurunya. Pengajian harta karunnya. Pengetahuan bentengnya, ceramah penasihatnya dan waktu adalah dutanya. Manusia sahabatnya, kemudahan pengiringnya, kejujuran panjinya, keterbukaan alatnya, kebijaksanaan bawahannya, zikir menterinya, dan pikiran teman berrcakapnya. Mukasyafah (ketersingkapan) makanannya, dan Musyahadah (penyaksian) obatnya. Adab syari’ah tampak luarnya, sedangkan sifat-sifat hakikah rahasianya”.

Syaikh Musa bin Syaikh Abdul Qadir al-Jailani berkata, “Aku pernah mendengar ayahku bercerita.“Suatu saat aku berkelana di padang pasir dan berhari-hari tidak mendapatkan air. Saat itu aku sedang sangat kehausan tiba-tiba datanglah sebentuk awan menaungiku dan menurunkan sejenis embun sehingga aku dapat minum darinya. Kemudian aku melihat cahaya memenuhi ufuk dan mulai mewujud. Kemudian sebuah suara berkata kepadaku, “Ya Abdul Qadir aku adalah tuhanmu, dan sekarang aku halalkan bagimu segala yang aku haramkan (atau dalam riwayat lain redaksinya) segala yang aku haramkan bagi selainmu.”

Aku berkata, “Aku berlindung kepada Allah dari syaitan terlaknat.”

Seketika itu ternyata cahaya tersebut adalah suatu kegelapan dan wujud yang ada hanyalah asap. Kemudian sebuah suara berkata kepadaku, “Abdul Qadir engkau telah selamat dari godaanku dengan ilmumu, hukum Tuhanmu dan kedalaman pengetahuanmu akan kondisi kedudukanmu. Dengan tipuan yang sama aku telah mengecoh lebih dari 70 orang wali thariqah. 

“Milik Tuhan segala keutamaan dan kekuatan,” Jawabku.

Diriwayatkan pula, “Bagaimana engkau dapat mengetahui sesuatu itu adalah setan ?” Tanya seseorang yang mendengar cerita tersebut kepadanya. Beliau menjawab, “Dari perkataannya “aku halalkan bagimu segala yang haram”. Padahal aku telah mengetahui bahwa Allah tidak pernah memerintahkan kejelekan.”

Syaikh Ali bin Idris al-Ya’qubi meriwayatkan suatu ketika Syaikh Ali bin al-Hitti ditanya tentang thariqah (jalan) Syaikh Abdul Qadir. Beliau berkata, “thariqahnya diawali daengan penerimaan total akan ketidakkuasaan diri. Thariqahnya adalah tauhid semata sebagai hamba Allah”.

Syaikh Uday bin Barakat Shakr bin Shakr bin Musafir bercerita bahwa ia pernah mendengar ayahnya bertanya kepada pamannya Syaikh Uday bin Musafir, “bagaimana thariqah Syaikh Abdul Qadir ?” beliau menjawab, “Menghilang mengikuti aliran taqdir dengan menyatukan antara hati dengan roh serta memadukan antara yang zahir dengan yang bathin dan menyucikannya dari sifat-sifat nafsu yang disertai dengan tidak lagi melihat kepada manfaat atau bahaya kedekatan atau kejauhan.”

Khalil bin Ahmad Sharshar meriwayatkan bahwa beliau pernah mendengar Syaikh Baqa’ bin Bathu berkata, thariqah Syaikh Abdul Qadir adalah persatuan antara perkataan dan perbuatan, perpaduan antara nafs, waktu, mencintai keikhlasan dan kepasrahan dan selalu menyesuaikan setiap langkah, pandangan, yang akan datang maupun yang saat ini dengan kitab dan sunah serta teguh bersama Allah.”

Syaikh aL-Mudzafar Mansur bin mubarak al-Wasithi yang dikenal dengan julukan al-Jadadah bercerita, “Pada suatu ketika aku dan beberapa sahabat menghadap Syaikh Abdul Qadir. Ketika itu aku membawa sebuah buku yang mengandung filsafat dan ilmu rohani. Saat kami menghadapnya, beliau langsung berkata kepadaku, “Bukumu ini adalah seburuk-buruk teman. Sekarang keluar dan cuci buku tersebut.”

Pada saat itu aku berniat melontarkan pertanyaan kepada beliau tentang sesuatu hal tetapi karena ketakutanku kepada Syaikh aku batal melakukannya. Aku juga tidak ingin mencuci kitab tersebut karena sayangku kepada kitab tersebut dan adanya suatu persoalan dalam kitab tersebut yang mengganjal hatiku. 

Saat aku ingin berdiri, sang Syaikh memandangiku bagai orang takjub dan aku tidak dapat bangkit dari tempat dudukku. 

“Kemarikan kitab tersebut,” pinta beliau kepadaku. 

Akupun membuka kitab tersebut dan mendapatinya hanya berupa halaman kosong tanpa satu huruf pun, kemudian aku serahkan kitab tersebut kepada beliau. Beliau terima kitab tersebut dan membolak baliknya kemudian berkata, “Ini kitab tentang fadhilah (keutamaan) Al-Qur’an karya Ibni Dharis Muhammad yang ditulis dengan indah”. Dan saat beliau mengembalikannya buku tersebut kepadaku, buku tersebut telah menjadi karya Ibnu Dharis yang ditulis dengan indah. Kemudian beliau berkata kepadaku, “Apakah engkau akan bertaubat karena mengatakan perkataan yang berlawanan dengan apa yang ada dalam hatimu?”

“Benar Tuanku,” Jawabku. 
“Kalau demikian halnya, berdirilah,” Ujar Syaikh Abdul Qadir. 

Ketika aku berdiri, aku baru menyadari bahwa aku telah melupakan pengetahuan tentang filsafat hukum roh sampai seakan-akan ilmu tersebut belum pernah aku ketahui sebelumnya.”

Dalam riwayat lain beliau berkata, “Ketika Syaikh Abdul Qadir duduk di atas bantal pada suatu waktu seseorang berkata kepadanya, “si fulan –sambil menyebut sebuah nama yang masyhur pada saat itu dengan karamah, ibadah, khalwat dan zuhud, serta ketaatan telah berkata, “Aku telah melewati maqam Nabi Yunus bin Mata”

Mendengar hal tersebut beliau menegakkan duduknya dan kemarahannya terbayang jelas di wajah beliau. Sambil melemparkan bantal tempat duduk, beliau berkata, “Hatinya telah tergelincir.” Mendengar hal tersebut kamipun menemui orang tersebut dan mendapatinya telah meninggal dunia mendadak, tanpa ada sakit sebelumnya.

Setelah itu aku berjumpa dengannya dalam mimpi dengan rupa yang menawan. “Apa yang Allah lakukan terhadapmu?” Tanyaku kepadanya ketika itu. 

“Allah telah mengampuniku dan merelakan perkataanku terhadap Nabi Yunus bin Matta. Syaikh Abdul Qadir lah penyelamatku dari Allah dan Yunus bin Matta. Karena berkahnya aku mendapatkan kebajikan yang sangat banyak.”

Syaikh Abdurrahman bin Hasan bin Ali al-Bathiahi ar-Rafi’i bercerita, “ketika aku mengunjungi Baghdad, aku menghadiri pengajian Syaikh Abdul Qadir. Saat itu aku melihat kondisi kekosongan jiwa dan kemudian sirr/rahasianya yang membuatku takjub. Setibanya di Umm Ubadah aku menyampaikan apa yang aku lihat kepada pamanku Syaikh Ahmad. Beliau berkata, “Siapa yang mampu menandingi kekuatan, kondisi spiritual dan apa yang dicapai oleh Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani ?”.

Abu Muhammad Al-Hasan menyatakan dirinya pernah mendengar Syaikh Ali Al-Quraisyi berkata kepada seseorang, “Jika engkau berjumpa dengan Syaikh Abdul Qadir maka engkau akan mendapati seseorang yang kekuatannya meniti jalan menuju Allah telah mencapai puncak, beliau termasuk sesepuh mereka yang menempuh jalan kesusahan dan kesungguhan. Thariqahnya adalah ketauhidan mutlak baik sifat dan aturannya. Dikuatkan dengan syariah baik yang lahir maupun yang bathin. Karakteristiknya adalah kekosongan jiwa, leburnya segala sesuatu dan munculnya musyahadah rabb dengan jiwa tanpa keraguan. Sirr/rahasia qalbu tanpa tanding dan hati yang selalu berkembang membuat beliau mampu mengacuhkan kerajaan paling besar dan menjadikan raja terbesar berada di bawah telapak kakinya.

Syaikh Muhammad Sanbaqi berkata, “Aku pernah mendengar guruku Syaikh Abu Bakar bin Hawwar berkata, ‘Wali autad iraq ada 8 orang; Syaikh Ma’ruf al-Kurkhi, Imam Ahmad bin Hanbal, Basyar al-Hafi, Mansur bin Amar, al-Junaid, as-Sirra (As-Saqti), Sahal bin Abdullah at-Tustari, dan Abdul Qadir al-Jailani’. ‘Siapa Abdul Qadir’ tanyaku kepada beliau. 

Jawab beliau, “Dia adalah seorang ‘ajam keturunan Rasulullah (syarif) tinggal di Baghdad dan muncul pada abad ke lima H beliau adalah salah seorang golongan Shiddiq, autad, afrad, ‘ayan, ad-dunya dan qutb az-zaman.”

Syaikh Abdul Qadir berkata, “Suatu ketika saat aku duduk di atas kursi (mengajar) aku melihat Rasulullah bersama Musa di udara. 

“Musa, adakah diantara umatmu ada seseorang seperti ini ?” tanya Rasululah. 

“tidak,” Jawab Musa. 

Kemudian Rasulullah bersabda kepadaku, “Abdul Qadir kemarilah.”

Kemudian Rasulullah memeluk aku dan memakaikan jubah kebesaran yang beliau kenakan seraya berkata, “Ini adalah jubah kebesaran bagi para rijal (al-ghaib) dan abdal.”

Lalu beliau meniup 3 kali ke dalam mulutku dan kemudian mengembalikanku ke atas mimbar.”

Al-Khidir al-Husaini al-Moushuli berkata, “Aku pernah melihat Syaikh Qadib Albaan al-Moushuli merendahkan diri. Beliau berkata, “Syaikh Abdul Qadir adalah ketua golongan pecinta (Muhibbin), kepala para salik, imam golongan Shiddiq, hujjah (referensi) kaum arif, pemimpin barisan muqarrabin (golongan orang-orang yang dekat kepada Allah), saat ini maupun generasi sesudah beliau.
Sumber : http://www.majeliswalisongo.com/2016/02/karomah-syaikh-abdul-qadir-al-jailani.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

tolong tinggalkan komentar.. okey!!!