21 April 2012

II. PEMBAHASAN


  


A.                KOTA BAGHDAD

Kota Baghdad didirikan oleh Khalifah abbasiyah kedua,Al-Mansyur (754-755M) pada tahun 762 M.menurut cerita rakyat; daerah ini sebelumnya adalah tempat peristirahatan Kisyra Anusyirwan,raja Persia yang Masyhur , di musim panas.Baghdad berarti “ taman keadilan”.di sekitar kota terdapat empat buah pintu gerbang, Keempat pintu gerbang itu adalah Bab al-Kufah, terletak di sebelah barat daya, Bab al-Syam di barat laut, Bab al-Bashrah di tenggara, dan Bab al-Khurasan di timur laut. Di tengah-tengah kota terletak istana khalifah yang di beri nama al-Qashr al-Zahabi, berarti istana emas. Sejak awal berdirinya, kota ini sudah menjadi pusat peradaban dan kebangkitan ilmu pengetahuan dalam Islam. Itulah sebabnya Philip K.Hitti menyebutnya sebagai kota intelektual. Menurutnya, di antara kota-kota dunia, Baghdad merupakan profesor masyarakat Islam. Al-Manshur memerintahkan penerjemahan buku-buku ilmiah dan kesusasteraan dari bahasa asing: India, Yunani lama, Byzantium, Persia, dan Syiri. Para peminat ilmu dan kesusastraan segera berbondong-bondong datang ke kota itu. Masa keemasan kota Baghdad terjadi pada zaman pemerintahan Khalifah Harun al-Rasyid (786-809 M) dan anaknya al-Ma’mun (813-833 M).Dari kota inilah memancar sinar kebudayaan dan peradaban Islam ke seluruh dunia. Ilmu pengetahuan dan sastra berkembang sangat pesat. Banyak buku filsafat yang sebelumnya dipandang sudah “mati” dihidupkan kembali dengan diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Khalifah al-Ma’mun memiliki perpustakaan yang dipenuhi dengan beribu-ribu buku ilmu pengetahuan. Perpustakaan itu bernama Bait al-Hikmah. Di samping itu, banyak berdiri akademi, sekolah tinggi dan sekolah biasa yang memenuhi kota itu.  Dua diantaranya yang terpenting adalah perguruan Nizhamiyyah, didirikan oleh Nizham al-Mulk, wazir Sultan Seljuk, pada abad ke-5 H dan perguruan Mustanshiriyah,ddirikan dua abad kemudian oleh Khalifah al-Mustanshir Billah. Dalam bidang sastra, kota Baghdad terkenal dengan hasil karya yang indah dan digemari orang. Diantara karya sastra yang terkenal ialah Alf Lailah wa Lailah, atau kisah seribu satu malam. Di kota Baghdad ini lahir dan muncul para saintis, ulama’, filosof, dan sastrawan terkenal, seperti al-Khawarizm (ahli astronomi dan matematika, penemu ilmu aljabar), al-Kindi (filosof Arab pertama), tiga pendiri hukum Islam (Abu Hanifah, Syafi’I, dan Ahmad ibnu Hambal), al-Ghazali (filosof, teolog, dan sufi besar dalam Islam yang dijuluki dengan Hujjah al-Islam), Abd al-Qadir al-Jilani (pendiri tarekat qadiriyah), dan lain-lain. Dalam bidang eonomi, perkembangannya berjalan sering dengan perkembangan politik. Pada masa Harun al-Rasyid dan al-Ma’mun perdagangan dan industri berkembang pesat. Banyaknya orang suci yang dikebumikan di dalam batas dan sekitar tembok kota, sehingga Baghdad mendapat julukan Benteng Kesucian. Kota yang terletak di tepi barat sungai Tigris itu muncul sebagai kota yang terindah dan termegah di dunia waktu itu.kota ini dibumihanguskan oleh tentara Mongol di bawah pimpinan Hulagu Khan tahun 1258 M. Semua bangunan kota, termasuk istana emas tersebut dihancurkan. Pasukan Mongol itu juga meruntuhkan perpustakan yang merupakan gudang ilmu dan membakar buku-buku yang terdapat di dalamnya, Pada tahun 1400 M, kota ini diserang pua oleh pasukan Timur Lenk, dan tahun 1508 Moleh tentara kerajaan Safawi.


B.                 KAIRO (MESIR)

Kota Kairo di bangun pada tanggal 17 Sya’ban 358 H/969 M oleh panglima perang dinasti Fathimiah, yang baraliran Syi’ah, Jawhar al-Siqili, atas perintah Khalifah Fathimiah, al-Mu’izz Lidinillah (953-975 M), sebagai ibu mota dinasti tersebut. Bentuk kota ini hampir merupakan segi empat. Di sekelilingnya dibangun pagar tembok besar dan tinggi, yang sampai sekarang masih ditemui peninggalannya.Wilayah kekuasaan dinasti Fathimiah, meliputi: Afrika Utara, Sicilia, dan Syria. Setelah pembangunan kota kairo rampung lengkap dengan istananya, al-Siqili mendirikan masjid al-Azhar, 17 Ramadhan 359 H(970 M). Masjid ini berkembang menjadi sebuah universitas besar yang sampai sekarang masih berdiri megah. Kota yang terletak di tepi sungai Nil ini menglami tiga kali masa kejayaan, yaitu pada masa dinasti Fathimiah, Shalahuddin al-Ayyubi, dan di bawah Baybars dan al-Nashir pada masa dinasti Mamalik. Periode Fathimiah dimulai dengan al-Mu’izz dan puncaknya terjadi pada masa pemerintahan anaknya, al-‘Aziz. Al-Mu’izz melaksanakan tiga kebijaksanaan besar, yaitu pembaharuan dalam bidang administrasi, pembangunan ekonomi, dan toleransi beragama (juga aliran). Pada masa ‘Aziz Billah dan Hkim Biamrillah, tedapat seorang mahaguru bernama Ibn Yunus yang menemukan pendulum dan ukuran waktu dengan ayunannya. Karyanya Zij al-Akbar al-hakimi diterjemahkan kedalam berbagai bahasa. Setelah ia meninggal penemuan-penemuannya diteruskan oleh Ibn al-Nabdi (1040) dan Hasan Ibn Haitham. Pada masa pemerintahan al-Hakim (996-1021 M) didirikan Bait al-Hikmah, terinspirasi dari lembaga yang sama yang didirikan oleh al-Ma’mun di Baghdad. Pada masa-masa selanjutnya dinasti Fathimiah mulai mengalami gangguan-gangguan politik. Akan tetapi kairo tetap menjadi sebuah kota besar dan penting. Dinasti Fathimiah ditumbangkan oleh dinasti Ayyubiah yang didirikan oleh Salahuddin, seorang pahlawan Islam terkenal dalam Perang Salib. Ia tetap mempertahankan lembaga-lembaga ilmiah yang didirikan oleh dinasti Fathimiah tetapi mengubah orientasi keagamaanya dari Syi’ah kepada Sunni. Kekuasaan dinasti Ayyubiah di Mesir diambil alih oleh dinasti Mamalik. Dinasti ini mampu mempertahankan pusat kekuasaannya dari serangan bangsa Mongol dan mengalahkan tentara Mongol di Ayn Jalut di bawah pimpinan Baybars. Pada masa itu, Kairo menjadi satu-satunya pusat peradaban Islam yang selamat dari serangan Mongol. Oleh karenanya, kairo menjadi pusat peradaban dan kebudayaan Islam terpenting. Kejayaan dinasti Mamalik memang berlangsung agak lama. Pada tahun 1517 M, dinasti inidikalahkan oleh kerajaan Usmani yang berpusat di Turki dan sejak itu Kairo hanya menjadi ibu kota provinsi dari kerajaan Usmani tersebut.


  
C.                ISFAHAN (PERSIA)  

Isfahan adalah kota terkenal da Persia, pernah menjadi ibu kota Kerajaan Safawi. Kota ini merupakan gabungan dari dua kota sebelumnya, yaitu Jayy, tempat berdirinya Syahrastan kemudian, dan Yahudiyyah yang didirikan oleh Buchtanashshar atau Yazdajir I atas anjuran istrinya yang beragama Yahudi. Ada beberapa pendapat tentang kapan kota ini  ditaklukan oleh tentara Islam. Pendapat pertama mengatakan penaklukan itu terjadi pada tahun 19 H (640 M), di bawah pimpinan Abdullah ibn ‘Atban atas perintah Umar ibnu al-Khaththab untuk menaklukkan kota Jayy yang merupakan salah satu ibu kota provinsi Persia waktu itu. Setelah beberapa peristiwa, penguasanya memilih masuk Islamdari pada membayar pajak. Kota ini berbentuk bundar, pintunya ada empat dengan menara pengontrol sabanyak seratus buah. Lebar tembok kota sekitar setengah farsakh (satu farsakh sekitar 8 km atau 3,5 mil). Kota ini, sebelumnya berada di bawah kekuasaan kerajaan Safawi, sudah beberapa kali mengalami pergantian penguasa. Ketika raja Safawi, Abbas I, menjadikan Isfahan sebagai ibu kota kerajaannya, kota ini menjadi kota yang luas dan ramai dengan penduduk. Kota ini terletak diatas sungai zendah. Disamping itu juga terdapat masjid yang sangat indah yaitu Masjid syah yang merupakan salah satu masjid terindah didunia yang dibangun oleh Abbas I. Kota ini, ketika berada di bawah kekuasaan kerajaan Safawi, dikelilingi oleh tembok yang terbuat dari tanah dengan delapan buah pintu. Di dalam kota banyak berdiri bangunan. Masjid Syah yang masih ada sampai sekarang yang didirikan oleh Abbas I, merupakan salah satu masjid terindah di dunia.

D.                ISTAMBUL (TURKI)   

Istambul adalah ibu kota kerajaan Turki Usmani. Kota ini sebelumnya merupakan ibu kota kerajaan Romawi Timur, yang bernama Konstantinopel.Konstantinopel sendiri sebelumnya sebuah kota bernama Byzantium terletak di Selat Bosporus, yang oleh Konstantin, Kaisar Romawi dimaksudkan untuk menjadi ibu kota kerajaannya yang baru, kerajaan Romawi. Akan tetapi, ketika kerajaan Romawi Barat, Roma, jatuh ketangan bangsa Goth tahun 476, maka Konstantinopel bertahan seribu tahun kemudian sampai sultan Turki Usmani berhasil menaklukkannya tahun 1453 dan menjadikannya sebagai ibu kota kerajaan yang baru. Pada masa jayanya, kerajaan Romawi Timur dapat di katakana sebagai sebuah negara adi daya yang hanya dapat di saingi oleh kerajaan Persia.
Sebenarnya jauh sebelum Turki Usmani di bawah Sultan Muhammad al-Fatih berhasil menaklukkan Konstantinopel, para pemimpin Islam sudah sejak zaman al-Khilafah al-Rasyidah, kemudian Khilafah Bani Umayyah dan Khilafah Bani Abbas berusaha kea rah itu. Namun, baru pada masa kerajaan Turki Usmani usaha itu berhasil.
Setelah Muhammad al-Fatih menjadikan Istambul sebagai ibu kota kerajaan TurkiUsmani, ia melakukan penataan hal ihwal orng-orang Kristen Yunani (Romawi). Dalam penatan tersebut ia tetap memberikan kebebasan kepada pihak gereja, seperti yang dilakukan para pendahulunya dan mengakui agama lain sesuai dengan ajaran Islam yang menghormati keyakinan suatu agama. Berkenaan dengan kekuasaan keagamaan orang Kristen Yunani, ia bahkan menyerahkan pelaksanaannya kepada penguasa keagamaan mereka. Hal yang sama juga berlaku bagi penganut agama Yahudi. Setiap agama mempunyai komunitasnya sendiri yang disebut dengan millet. Sultan memberi kebebasan kepada penganut agama Kristen, misalnya, untuk memilih dan menentukan patriach. Bilamana seorang patriach sudah terpilih, ia kemudian melantiknya, dan memberikan tongkat serta memasukkan cincin kepatriachan kepada patriach terpilih itu. Itu tidak pernah terjadi pada masa raja-raja Kristen sendiri sebelumnya. Penduduk Istambul memang heterogen dalam bidang agama. Menurut sensus tahun 1477, penduduk Istambul berdasarkan agama adalah sebagai berikut: Muslim 8951 rumah tangga (60%), penganut Kristen Ortodoks (Yunani) 3151 rumah tangga (21,5%), Yahudi 1647 rumah tangga (11%), lain-lain 1054 rumah tangga (7,5%). Sebagaimana halnya dengan konstantinopel pada masa kerajaan Romawi Timur, kerajaan Turki Usmani dengan ibu kota Istambul itu, juga menjadi sebuah Negara adi daya pada masa jayany. Wilayah kekuasaannya meliputi sebagian besar Eropa Timur, Timur Tengah, dan Afrika Utara. Bahkan negara-negara Islam di daerah yang lebih jauh juga mengakui kekuasaannya. Sebagai sebuah kerajaan Islam terbesar pada waktu itu, maka raja-rajanya juga memakai gelar khalifah. Istana khalifah terletak di kota ini.
Sebagai ibu kota, di sinilah tempat berkembangnya kebudayaan Turki yang merupakan perpaduan bermacam-macam kebudayaan. Bangsa Turki Usmani banyak mengambil ajaran etika dan politik dari bangsa Persia. Sebagai bangsa yang berasal dari Asia Tengah, Turki memang suka berasimilasi dan senang bergaul dengan bangsa lain. Dalam bidang kemiliteran dan pemerintahan, kebudayaan Byzantium banyak mempengaruhi kerajaan Turki Usmani ini. Namun, jauh sebelum mereka berasimilasi dengan bangsa-bangsa tersebut, sejak pertama kali mereka masuk Islam bangsa Arab sudah menjadi guru mereka dalam bidang agama, ilmu,prinsip-prinsip kemasyarakatan  dan hukum. Huruf Arab dijadikan huruf resmi kerajaan.
Kekuasaan tertinggi memang berada di tangan Sultan, tetapi roda pemerintahan dijalankan oleh Shadr al-‘Azham (perdana menteri) yang berkedudukan di ibu kota. Jabatan-jabatan penting, termasuk perdana menteri, seringkali justru diserahkan kepada orang-orang asal Eropa, dengan syarat menyatakan diri secara formal masuk Islam.    
Dalam bidang arsitektur, masjid-masjid yang di bangun di sana membuktikan kemajuannya. Masjid memang merupakan suatu ciri dari sebuah kota Islam, tempat kaum muslimin mendapat fasilitas lengkap untuk menjalankan kewajiban agamanya. Gereja Aya Sophia, setelah penklukan diubah menjadi sebuah masjid agung yang terpenting di Istambul. Gambar-gambar makhluk hidup yang ada sebelumnya ditutup, mihrab didirikan dindingnya dihiasi dengan kaligrafi yang indah, dan menara-menara dibangun. Masjid-masjidpenting lainnya adalah Masjid Agung al-Muhammad atau Masjid Agung Sultan Muhammad al-Fatih, Masjid Abu Ayyub al-Anshari (tempat pelatikan para sultan Usmani), Masjid Bayazid dengan gaya Persia, dan masjid Sulaiman al-Qanuni.
Disamping masjid, para sultan juga mendirikan istana-istana dan villa-villa yang megah, sekolah, asrama, rumah sakit, panti asuhan, penginapan, pemandian umum, pusat-pusat tarekat, dan sebagainya. Rumah-rumah dan villa mewah juga dimiliki oleh pedagang-pedagang kaya. Istana dan villa biasanya dilengkapi dengan taman dan tembok disekelilingnya. Jalan-jalan yang menghubungkan antara satu daerah dengan daerah lain, terutama dengan ibu kota dibangun.

E.                  DELHI (INDIA)

Delhi adalah ibu kota kerajaan-kerajaan Islam di India sejak tahun 608 H/1211M (kecuali beberapa kali dalam waktu yang tidak lama, yaitu ketika ibu kota pindah ke Dawlatabad, Agra, dan Lahore) sampai kerajaan Mughal runtuh oleh Inggris tahun 1858 M. Sebagai ibu kota kerajaan-kerajaan Islam, Delhi juga menjadi pusat kebudayaan dan peradaban Islam di anak Benua India.
Kota ini terletak di pinggir Sungai Jamna. Sebelum Islam masuk ke sana, Delhi berada di bawah kekuasaan ketururnan Johan Rajput. Tahun 589 H (1193 M), kota ini ditaklukkan oleh Qutb al-Din Aybak, dan tahun 602 H (1204 M) ini dijadikan ibu kota kerajaan tersendiri olehnya. Dinasti Mamluk ini berkuasa sampai tahun 689 H (1290 M), kemudian diganti oleh dinasti Khalji (1296-1316 M), setelah itu, dinasti Tughlug (1320-1413 M). Babur, raja Mughal pertama, merebut Delhi dari tangan dinasti Lodi. Setiap dinasti Islam memperluas kota itu dengan mendirikan “kota-kota” baru di Delhi semula, yaitu kota yang berada di dalam benteng Lalkot. Delhi sekarang mencakup semua kota-kota baru itu. Semuanya dikenal sebagai “Tujuh Kota Delhi”.
Dinasti mamluk mendirikan sebuah menara yang tingginya 257 kaki, dikenal dengan nama menara “Qutb Manar”, bukan saja sebagai tempat azan tetapi juga sebagai tugu kemenangan, dan sebuah masjid dengan nama masjid “Qutb al-Islam”. Mamluk juga memperluas tembok kota Hindu itu dengan apa yang dikenal dengan kota Kil’a Ray Pithora. Inilah “kota” pertama dari tujuh “kotaDelhi tersebut.
Dinasti Khalji menambah bangunan masjid dengan atap yang indah dan beberapa menara lagi. Ke sebelah Barat, dinasti ini memperluas benteng Lalkot yang lama dengan maksud mempertahankan kota dari serangan bangsa Mongol. Dengan demikian ia memindahkan ibu kota ke Siri, sekitar 2 km dari yang pertama. Inilah kota yang kedua. Di dalam kota, dinasti ini mendirikan sebuah istana megah tersendiri.
Sementara itu, raja pertama dinasti Tughlug mendirikan Tughlughabad, sekitar 8 km sebelah Timur Kil’a Ray Pithora, yang kemudian dijadikannya sebagai pusat pemerintahan tahun 720H?1320M. Di Tengah Tughlughabad didirikan istana, masjid, perumahan, perkantoran, dan jalan-jalan, yang dikelilingi oleh benteng yang kuat. Dinasti ini juga membangun jalan-jalan yang ditinggikan, membentuk pita disebelah tenggara, untuk memelihara air danau. Muhammad ibn Tughlug juga melaksanakan sebuah proyek raksasa, yaitu mendirikan Adilabad yang kemudian dikenal dengan Syahjahanabad.
Setelah Delhi dihancurkan oleh tentara Timur Lenk, kekuasaan raja-raja yang berkedudukan di Delhi merosot tajam. Ketika itulah dinasti Lodi mengambil kota Agra sebagai ibu kota, sementara Delhi menjadi kota yang kurang penting. Kota Agra itu pula untuk pertama kalinya menjadi kota kerajaan Mughal, ketika Babur mengalahkan dinati Lodi. Delhi baru menjadi ibu kota kerajaan Mughal pada masa Humayun (1530-1556 M), seorang raja yang cinta ilmu. Raja Mughal lainnya, Syah Jehan (1628-1658 M) mendirikan kota Syahjahanabad. Inilah “kota” terakhir dari tujuh “kota” itu.
Setiap dinasti Islam yang berkuasa di India senantiasa menjadikan Delhi sebagai ibu kotanya, seakan mereka berlomba-lomba untuk membangun dan memperindah istana, benteng, masjid, madrasah, dan makam. Di Delhi dan sekitarnya banyak berdiri makam-makam para penguasa Islam, tetapi juga makam-makam para wali.Delhi Islam yang dapat disaksikan sekarang adalah Delhi yang hanya dibangun oleh kerajaan Mughal.

F.                  ANDALUS (SPANYOL)

Di Spanyol banyak kota-kota Islam yang masyhur dan menjadi pusat peradaban Islam, seperti Sevill, Kordova, Granada, Murcia, dan Toledo. Yang terpenting diantaranya adalah Kordova dan Granada.

1.         Kordova
    
Kota ini terletak di sebelah selatan lereng gunung Sierra de Cordova dan di tepi sungai Guadalquivir. Sebelum Spanyol ditaklukkan oleh tentara Islam tahun 711 M, Kordova adalah ibu kota kerajaan Kristen Visigoth, sebelum dipindahkan ke Toledo. Penaklukan Spanyol oleh pasukan Islam terjadi pada masa khalifah al-Walid ibn al-Malik, di bawah pimpinan Tarik ibn Ziyad dan Musa ibn Nushair. Pada tahun 756 M, kota ini menjadi ibu kota dan pusat pemerintahan Bani Umayyah di Spanyol, Penguasa Bani Umayyah pertama di Spanyol adalah Abd al-Rahman al-Dakhil. Kekuasaan Bani Umayyah di Andalus ini berlangsung dari tahun 756 M sampai 1031 M.
Sebagai ibu kota pemerintah, Kordova di masa Bani Umayyah mengalami perkembangan yang pesat. Banyak bangunan bru yang didirikan, seperti istana dan masjid-masjid. Kota ini diperluas dengan memperbesar tembok yang mengelilinginya. Sebuah jembatan dengan gaya arsitektur Islam yang mempunyai 16 lengkungan dalam gaya Romawi, menghubungkan Kordova dengan daerah pinggiran di seberang sungai. Di sebelah barat jembatan itu berdiri istana al-Cazar. Perkembangan kota ini mencapai puncaknya pada masa pemerintahan Abd al-Rahman al-Nashir di pertengahan abad ke-10 M. Pada masa pemerintahan Islam, Kordova terkenal juga sebagai pusat kerajinan barang-barang dari perak, sulaman-sulaman dari sutera dan kulit yang mempunyai bentuk khusus. Pada tahun 1236 M Kordova direbut oleh tentara Kristen di bawah pimpinan Ferdinand III dari Castilla. Setelah itu, supremasi Islam di Spanyol mulai mengalami zaman kemunduran.
Pada masa pemerintahan Bani Umayyah di Spanyol, Kordova menjadi pusat ilmu pengetahuan. Di kota ini berdiri Universitas Kordova. Di samping itu, di kota ini juga terdapat sebuah perpustakaan besar yang mempunyai koleksi buku kira-kira 400.000 judul. Daftar sebagian dari buku-buku itu terkumpul dalam 44 jilid besar buku. Kemajuan ilmu pengetahuan di sana tidak terlepas dari jasa dua orang khalifah pencinta ilmu, Abd al-Rahman al-Nashir dan anaknya al-Hakam. Yang di sebut terakhir ini memerintahkan pegawainya untuk mencari dan membeli buku-buku lmu pengetahuan, baik klasik maupun kontemporer. Bahkan, ia ikut langsung dalam pengumpulan buku itu. Ia menulis surat kepada penulis-penulis terkenal untuk mendapatkan karyanya dengan yang tinggi. Pada masanyalah tercapai apa yang dinamakan masa keemasan ilmu pengetahuan dan sastra di Spanyol Islam.
Mengutip penyair Inggris, Syed Amir Ali melukiskan Kordova sebagai berikut: “Istana-istana dan taman-taman Kordova adalah indah, tetapi tidak kurang kekaguman orang terhadapnya mengenai soal-soal yang lebih tinggi. Mahaguru dan guru-gurunya menjadikannya pusat kebudayaan Eropa, siswa-siswa bisanya berdatangan dari seluruh pelosok Eropa untuk belajar pada dokterdoketrnya yang masyhur”. Astronomi, geografi, ilmu kimia, sejarah alam, semuanya dipelejeri dengan bersemangat di Kordova. Di bidang kesusasteraan, tidak ada zaman di Eropa, yang menempatkan puisi Arab demikian menjadi buah  bibir selsin pada zaman ini. Masjid-masjid Kordova yang dikunjungi beribu-ribu siswa menjadi pusat-pusat aktif studi filsafat dan ilmu. Mengutip pendapat Renan, Amir Ali menyebutkan, zaman emasnya kesusasteraan dan ilmu di Spanyol terjadi ketika daerah ini di bawah pemerintahan Hakam al-Mustansir Billah yang meninggal tahun 976 M.
Pada masa jayanya, di Kordova terdapat 491 masjid dan 900 pemandian umum. Karena air di kota ini tak dapat di minum, penguasa muslim mendirikan saluran air dari pegunungan yang panjangnya 80 km.



2.         Granada
Kota Granada terletak di tepi sungai Genil di kaki gunung Sierra Nevada, berdekatan dengan pantai laut Medeterania (Laut Tengah). Granada semula adalah tempat tinggal orang Iberia, kemudian menjadi kota orang Romawi, dan baru terkenal setelah Bani Umayyah mengalami kemunduran, tahun 1031 M, dalam jangka waktu 60 tahun, Granada diperintah oleh dinasti setempat, yaitu dinasti Zirids. Setelah itu, Granada jatuh ke bawah pemerintahan al-Murabithun, sebuah dinasti Barbar dari Afrika Utara pada tahun 1090 M Al-Murrabithun berkuasa di sana sampai tahun 1149 M. pada masa pemerintahannya, banyak istana dibangun di sana.
Pada abad ke-12, Granada menjadi kota terbesar kelima di Spanyol. Kota ini dikelilingi oleh tembok. Struktur penduduknya terdiri dari campuran berbagai bangsa, terutama Arab, Barbar, dan Spanyol yang menganut tiga agama besar Islam, Kristen, dan Yahudi. Penganut agama tinggal di dalam sektornya masing-masing di kota itu. Sejak abad ke-13, Granada diperintah oleh dinasti Nasrid selama lebih kurang 250 tahun. Pada masa itulah dibangun sebuah istana indah dan megah yang terkenal dengan nama istana al-Hambra, berarti merah. Batu-batu dan ornamen yang terdapat di dalamnya memang hampir seluruhnya berwarna merah. Istana ini dibangun oleh arsitek-arsitek muslim pada tahun 1238 M dan terus dikembangkan sampai tahun 1358 M. Istana ini terletak di sebelah timur al-Kazaba, sebuah benteng tentara Islam. Granada terkenal dengan tembok dan 20 menara yang mengitarinya. Pada masa pemerintahan Muhammad V (1354-1391 M), Granada mencapai puncak kejayaannya, baik dalam arsitektur maupun dalam bidang politik. Akan tetapi menjelang akhir abad ke-15 pemerintahan menjadi lemah terutama karena perpecahan keluarga. Pada tahun 1492, kota ini jatuh ke tangan penguasa Kristen, raja Ferdinand dan Isabella. Selanjutnya, tahun 1610 M orang-orang Islam diusir dari kota ini oleh penguasa Kristen.












G.                SAMARKAND DAN BUKHARA (TRANSOXANIA)

DI Transoxiana terdapat dua kota penting tempat peradaban Islam pernah berkembang dengan pesat, yaitu Samarkand dan Bukhara. Samarkand terletak di sebelah selatan sungai al-Saghad. Riwayat tentang kota Samarkand yang tertua disebutkan dalam berita-berita tentang peperangan-peperangan Iskandar Zulkarnain (Alexander the Great) di Timur. Menurut berita itu, kota ini beberapa kali diduduki oleh Iskandar ketika ia dan pasukannya berperang melawan Spitamenes. Tetapi, menurut riwayat-riwayat tertua dalam bahasa Arab, Iskandarlah yang mendirikan kota Samarkand itu. Setelah tahun 323 M, kota ini menjadi bagian dari sebuah kekuasaan yang berpusat di Bactria. Setelah itu di sana berdiri kerajaan Graeco-Bactrion (Bactria Yunani) pada masa Anthiochus II Theos. Sejak itu, hubungan politik dan ekonomi antara Samarkand dengan Persia dan Cina terputus, meskipun hubungan dalam bidang budaya, masih tetap berlanjut. Riwayat kota Bukhara sebelum Islam juga panjang  Kota ini diperkirakan sudah ada ketika Iskandar dating ke sana. Dilihat dari bangunan-bangunan kuno, pengaruh Persia sudah lama tertanam di sana. Pengaruh Cina juga besar. Sebelum Islam datang di sana terdapat tempat ibadah agama Budha.
Setelah kebangkitannya yang gemilang, umat Islam berusaha mengadakan ekspansi ke negeri ini. Akan tetapi, usaha-usaha itu selalu gagal, kecualisetelah Qutaibah ibn Muslim ditunjuk sebagai gubernur Khurasan. Ketika itu Samarkand diperintah oleh Tharkhun (Cina:To-hoen;Turki:Tarquon). Pada tahun 91 H (709 M) ia mengadakan perjanjian damai dengan Qutaibah dan berjanji untuk membayar jizyah (pajak) kepada pemerintah Islam di Damaskus, di bawah dinasti Bani Umayyah. Namun, penduduk negeri itu marah kepada Tarkhun dan menurunkannya dari kekuasaannya. Posisinya diganti oleh Ikhsyiz Ghurik (Cina: U-le-kia). Qutaibah berhasil memaksa Ikhsyiz untuk menerima perjanjian itu pada tahun 93 H (712 M) setelah ia dan pasukannya mengepung kota tersebut dalam waktu yang cukup panjang. Qutaibah memperkenalkan Ikhsyiz tetap pada posisinya, tetapi menempatkan seorang wakilnya sebagai penguasa Arab dengan satu pasukan yang kuat. Sejak itu, Samarkand dan Bukhara menjadi batu loncatan untuk melancarkan ekspansi lebih luas di negeri Transoxiana. Ekspansi Islam itu dilalui dengan berat dan melalui banyak sekali pertempuran.
Pada tahun 204 H (819 M) al-Ma’mun, khalifah dari dinasti Bani Abbas yang berpusat di Baghdad, menyerahkan urusan pemerintahan negeri Transoxiana, khususnya Samarkand dan Bukhara kepada keluarga Asad ibn Saman. Sejak itu, dua kota ini berada di bawah kekuasaan dinasti Samaniah, samarkand menjadi daerah yang sangat makmur dan masyarakatnya hidup sejahtera, yang hanya dapat dibandingkan dengan masa pemerintahan Timur Lenk dan keturunannya di sana, lima ratus tahun kemudian. Sekalipun ibu kota pindah ke Bukhara, tetapi Samarkand tetap merupakan kota terpenting karena ia menjadi pusat perdagangan dan kebudayaan Islam.
                  

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

tolong tinggalkan komentar.. okey!!!