23 Februari 2015

Antara Sekolah dan Kuliah

Antara Sekolah dan Kuliah
(Afif Luthfi)

Teringat dengan jelas ketika masa- masa belajar di Madrasah Aliyah Miftahussalam saat ditanya mengenai kemana setelah lulus nanti, dalam hati ku menjawab “ Aku Harus Bisa Melanjutkan Studi ” kalimat ini ku tanamkan dalam diri sekuat-kuatnya, saat ada orang bertanya hal sama aku juga jawab dengan sama pula “studi, studi, dan studi” . Ya berbekal satu keyakinan ini aku mulai pengen tau gimana sih sebenarnya rasa bangku perkuliahan?,  Bagaimana rasa menyandang predikat status yang tuhan pun tidak  mau memakainya?, Menjadi mahasiswa titik.
Kepada beberapa guru dan orang tuaku ku alamatkan pertanyaan tersebut. Jawaban yang aku dapat membuat perasaan harap harap cemas. “ sedemikiankah kuliah itu mengerikan? Disaat satu mata kuliah tidak lulus maka harus mengulang bersama adik adik tingkat. Pasti perasaan malu yang datang taktertahankan. “Tanyaku dalam hati”
Mulai saat inilah saya menganggap adanya “Gap” yang luar biasa jauh antara sekolah dan kuliah. Setelah masuk kuliah saya harus menyesuaikan diri dengan lingkungan yang sedemikian rupa. Pada saat ini berjuta juta anggapan saya tentang kuliah hanya mengendap dalam dada dan pikiran. Hingga akhirnya Allah menunjukan jalannya, saya diberi kesempatan untuk merasakan sendiri bagaimana itu kuliah. Pertanyaan yang dahulu menyeruak dalam hati sekarang satu persatu mulai terjawab dengan berjalannya waktu.

Sama sama belajar
            Diawal perkuliahan, jujur saja, saya masih bertanya kepada diri saya sendiri, “ Benarkah saya sudah dilingkungn perkuliahan, benarkah saya menjadi bagian dari segelintir orang yang bisa merasakan bangku bernama PERKULIAHAN?”, tanya saya dalam hati waktu itu. Tak terasa setahun telah aku jalani perkuliahan ini, beda, sangat dan sangatlah beda antara sekolah dan kuliah. Tidak ada waktu pembelajaran yang monoton, pakaian bebas namun sopan. Masalah pakaian jadi teringan tentang penjelasan alasan adanya penyeragaman pakain sekolah dari salah satu guru AKIDAH. Katanya gini: “ tujuan dari penyeragaman pakaian sekolah salah satunya agar tidak menimbulkan ketimpangan social antara si kaya dan kurang kaya. Seandainya pakaian bebas pasti berbeda beda merek pakaian, berbeda pula harga yang intervalnya terpaut amat jauh, begitulah kira kira penjelasanya dulu.
            Aku masih teringat ketika setiap jam Akidah dan Matematika pasti ada pemeriksaan Rambut dan Kuku. Yang panjang dan gondrong dipotongin,  sabuk pun dipersoalkan, dalam kuliah hal itu menjadi urusan masing masing, mau panjang, gondrong , kribo menjadi urusan masing masing karena dianggap mereka mempunyai kemandirian dan kedewasan untuk menentukan pilihan.
            Selain yang disebutkan diatas perbedaan prinsipil tentunya masih ada. Terlepas dari perbedaan yang sama antar keduanya adalah “ SAMA SAMA BELAJAR”. Sekolah: tempat belajar (menimba ilmu) perkuliahan pun demikian: tempat belajar dan memperdalam ilmu. Intinya adalah belajar, memperluas pengetahuan, memperdalam ilmu dan mencari bekal untuk kehidupan yang lebih luas.

Belajar “ Tanpa Batas”
            Guru spiritual saya pernah mengatakan yang menentukan keberhasilan seseorang adalah “ Universitas Kehidupan”. Tidak berusaha mengesampingkan universitas formal tetapi untuk menjelajahi hiruk pikuk kehidupan ilmu dari Universitas formal masih sangatlah kurang. Seseorang dituntun mengali lebih jauh dan mendalam tentang pengetahuan dan keilmuan dari segala bidang.
            Universitas kehidupan adalah perguruan tinggi tanpa sekat ruang dan waktu yang ada dalam alam semesta ini. Universitas ini boleh diakses oleh siapapun dan kapan pun. Universitas ini pula menjadikan semua orang sebagai guru, menjadikan semua tempat sebagai madrasah, menjadikan semua benda menjadi media pembelajaran, kata pepatah Arab “ ambilah hikmah walaupun keluar dari mulut binatang sekalipun”. Jika ruang kelas universitas formal mempersiapkan untuk menjawab soal soal , maka di universitas kehidupan mempersiapkan diri untuk menjawab masalah kehidupan. Inilah universitas kehidupan yang mendidik manusia menjadi pribadi yang sebenarnya.
            Bukan maksud saya merendahkan kawan kawan yang punya impian melanjutkan ke Universitas Formal. Perlu diingat mulai dari awal bahwa ketika sebuah ilmu pengetahuan hanya berhenti di dalam kelas maka dia cukup menjadi teori yang tidak memiliki banyak makna dan arti. Pada titik inilah universitas kehidupan menjadi lahan untuk mengapresiasikan ilmu yang didapat dalam ruang kelas. Intinya tidak ada yang tidak bisa dijadikan media, guru, tempat yang dapat kita jadikan sebagai sarana menimba ilmu dalam universitas kehidupan. Mari hadirkan mindset itu dalam pikiran kita (garis bawahi).
            Kalau konsep itu kita pegang dengan kuat-kuat selanjutnya adalah komitmen akan niat (N-I-A-T). empat huruf yang perlu selalu menyala dan kita jaga agar tidak padam, boleh kita putus asa tapi tidak boleh putus belajar. Niat kata ini memegang perana penting dalam segala hal, kita pasti tidak asing dengan ungkapan ini  “ Segala Sesuatu Tergantung Niatnya “ kalau niatan keduniaan yang mendominasi, hanya keduniaanlah yang akan kita raih, tapi jika niat kita lebioh dari itu: ridho Allah maka kebahagiaanj duniawi dan ukhrowi sebagai imbalanya.
            Oleh karena itu , mari merenung dan refleksikan diri. Apa sebenarnya yang ingin kiata capai dalam “proses belajar” yang dalam hadits nabi  tidak boleh berenti sampai dijemput ajal. Logika belajar selayaknya dipersiapkan seperti seseorang yang meneguk air lautan, semakin banyak air yang diminum justru dahaga dan rasa haus makin kuat dirasakan. Semakin kita berenang ketengah lautan maka makin dalam, makin luas, makin tak terhingga akan lautan itu. Ilmu semakin dicari, semakin membuat bodoh karena semakin banyak hal yang ia tidak mengerti.  Semakin banyak kita kumpulkan untuk dikaji semakin membuat kita penasaran.
            Sebagai penutup, Allah memang sudah berjanji mengajarkan ilmu untuk manusia. Mengajarkan ilmu dengan perantara kalam. Mengajari manusia dengan apa-apa yang tidak diketahui. Mula mula manusia tidak bisa membaca dan menulis, Allah mengajarkan ilmunya. Jika Allah sudah pernah berjanji apakah kita hanya menunggu tanpa pernah mencari?. Kita adalah makhluk yang paling mulia yang dibekali akal dan kemampuan usaha. Ilmu Allah tidak akan turun begitu saja. Kitalah yang harus menjemputnya dengan jerih payah, dan tak kenal lelah. Mencari  tanpa henti dimanapun, kapanpun, pada siapapun tanpa ada sekat ruang dan waktu , yang ada hanyalah ajal yang memberhentikan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

tolong tinggalkan komentar.. okey!!!